Hilarius Mali Asa: Menjemput Sukses dengan Ketekunan

HILARIUS Mali Asa,S.H putra Holgotok, Lamaknen–Belu, merantau ke Bali pada 1988 dengan cita-cita melanjutkan kuliah. Keterbatasan biaya membuatnya memilih bekerja, namun justru dari perjalanan itu ia menemukan panggilan baru: dunia seni meubel.

Memulai dari bawah, Hilarius membangun art shop yang dikenal karena kualitas dan sentuhan seninya. Usaha tersebut sempat terhenti akibat tingginya permintaan dan sulitnya pasokan barang, namun Hilarius tidak menyerah. Ia bangkit kembali, memperkuat jaringan, dan menghadirkan kembali usaha meubel yang kini menjadi identitas profesionalnya.

Sebagai advokat dan pengusaha, Hilarius dikenal tekun, jujur, dan pantang menyerah—sosok inspiratif bagi perantau muda dari Belu dan NTT. Berikut kisah inspiratif Hilarius Mali Asa, kepada redaksi E-Magazine EKSEKUTIF.

 

Dari Pertemuan Tak Terduga di Legian

Perjalanan usaha Hilarius Mali Asa dalam dunia seni bermula dari kecintaan sederhana terhadap barang-barang artistik. Sejak tahun 1999, ia mulai mengoleksi berbagai karya seni yang menarik perhatiannya.

Setiap kali menemukan barang seni yang bagus, ia membelinya—bukan untuk dijual, melainkan hanya untuk dipajang di kamar kos tempat ia tinggal. Saat itu ia belum terpikir untuk berbisnis; ia hanya menikmati keindahan dan makna di balik setiap karya.

Suatu hari, setelah makan di sebuah restoran di kawasan Legian, sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Dalam perjalanan pulang, Hilarius secara tidak sengaja menabrak dua turis asing. Namun bukannya marah, kedua bule itu justru memintanya duduk untuk menenangkan diri. Sikap mereka yang ramah dan menenangkan membuat kejadian itu menjadi awal pertemanan yang unik.

Beberapa waktu setelah insiden itu—tepat pada Hari Natal—kedua bule tersebut datang ke tempat tinggal Hilarius. Salah satunya berasal dari Norwegia, dan yang lainnya dari Swedia. Baru kemudian Hilarius mengetahui bahwa pria Norwegia itu adalah seorang aktor terkenal di negaranya. Pertemuan itulah yang membuka mata Hilarius bahwa koleksi seni yang ia pajang ternyata menarik perhatian orang luar, bahkan dari dunia internasional.

Dari pertemuan sederhana itu, lahirlah inspirasi dan keberanian untuk memulai usaha art shop bersama dua bule asal Norwegia dan Swedia itu. Kecintaan pada seni, perjumpaan-perjumpaan berharga, dan apresiasi dari banyak orang akhirnya menjadi pondasi dari perjalanan panjang Hilarius dalam industri seni dan meubel hingga hari ini.

 

Berawal dari Timor Wood Art di Ubud

Dari ketertarikan dua bule asal Norwegia dan Swedia dan dukungan mereka, menjadi titik awal berdirinya sebuah art shop di Ubud Bernama ‘Timor Wood Art’.

Proses perizinan usaha ini tidaklah sederhana. Karena skala usaha yang cukup besar dan melibatkan investor asing, izin sampai harus melalui Kementerian Hukum dan HAM. Namun, di tengah berbagai prosedur dan tantangan, Tuhan membuka jalan dengan cara yang tak terduga. Bahkan, apa yang tampak seperti “tabrakan” peluang justru menjadi pondasi bagi usaha yang panjang dan berkelanjutan hingga hari ini.

Perjalanan ini mengajarkan satu hal penting: setiap peristiwa, betapa pun tragis atau sulit, selalu menyimpan hikmah. Keberhasilan Timor Wood Art bukan semata hasil strategi bisnis, tetapi juga bukti bagaimana keyakinan, keberanian, dan kesempatan yang tidak disangka dapat menyatu membentuk cerita sukses yang inspiratif.

Timor Wood Art bukan sekadar menjual karya seni, tetapi juga simbol bagaimana seni dan ketekunan dapat membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan pengembangan pariwisata berbasis budaya di Bali. **

 

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *