Mengantarkan Kenangan, Membuka Peluang: Kisah Haru Hilarius Mali di Swedia

SEJAK awal datang ke Bali, Hilarius Mali sudah menanamkan target besar dalam hidupnya: suatu hari bisa ke luar negeri, paling tidak ke Australia saja. Ambisinya itu mulai terwujud ketika ia bekerja dan berinteraksi dengan investor asing yang memiliki kedekatan dengan Bali.

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi pada tahun 2002, ketika investor asal Swedia yang sudah dekat dengannya meninggal di Bali karena sakit. Sang investor, yang sebelumnya berobat ke Swedia, memilih menghabiskan sisa hidupnya di Bali karena merasa memiliki ikatan emosional dengan pulau ini.

Hilarius dipercaya untuk mengantarkan abu jenazah almarhum ke Swedia dan menyerahkannya langsung kepada istri dan anak-anak almarhum di dalam gereja. Saat itu, momen tersebut begitu mengharukan sehingga banyak orang menangis, termasuk Hilarius sendiri. Ia pun merasa, “Tugas dan tanggung jawab saya sudah selesai.”

Setelah tugas itu selesai, kesempatan internasional pun terbuka. Hilarius mendapat kesempatan keliling negara-negara sekitar Swedia, termasuk bersama teman investor dari Norwegia. Pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan dan jaringan internasional, tetapi juga memberikan pelajaran hidup tentang tanggung jawab, integritas, dan hubungan manusia yang tulus.

Bagi Hilarius, setiap pengalaman, mulai dari kerja keras di Bali hingga perjalanan internasional, selalu memiliki hikmah. Kisah ini menjadi contoh nyata bagi generasi muda: jika memiliki tekad, keberanian, dan tanggung jawab, kesempatan besar akan datang, bahkan melewati batas negara. **

 

Diuji Sebutir Permen, Sebuah Pelajaran Kejujuran

Di balik perjalanan bisnis Adv. Hilarius Mali Asa, SH, terdapat kisah sederhana namun kuat tentang bagaimana ia memaknai kejujuran. Pelajaran itu datang bukan dari bangku kuliah, melainkan dari pengalaman bekerja bersama dua partner asal Norwegia dan Swedia—orang asing yang justru mengajarinya nilai paling dasar dalam dunia usaha: trust.

Pada masa awal kariernya, Hilarius sering diberi tugas untuk mengambil uang dalam jumlah besar di bank. Nominalnya selalu dicatat dengan rinci, dan ia diminta mengambil sesuai angka yang tertulis. Setiap kali kembali ke kantor dengan uang utuh, tanpa selisih satu sen pun, ia pun menerima pujian yang sama.

Kala itu ia belum menyadari bahwa pujian tersebut bukan sekadar ucapan. Itu adalah bentuk penghargaan atas integritasnya. Para partnernya sedang menilai sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang yang dibawa—karakter.

Namun, ujian tidak berhenti di bank. Di dekat telepon kantor, mereka menaruh sebuah wadah kecil berisi permen. Kelihatannya remeh, namun ternyata itu adalah tes lain yang dirancang khusus untuk mengukur kejujuran. Jika permen itu berkurang, mereka akan tahu. Jika ada yang mengambil tanpa izin, mereka akan bertanya siapa pelakunya.

 

Ketidakjujuran Kecil adalah Awal dari Kejahatan Besar

Bukan karena harga permennya. Bukan karena mereka pelit. Melainkan karena mereka percaya: ketidakjujuran kecil adalah awal dari kejahatan besar.

Dari hal sederhana ini, Hilarius memahami sebuah prinsip penting—bahwa kejujuran bukan hanya moralitas pribadi, tetapi modal paling mendasar dalam bisnis. Partner luar negeri yang ia hormati itu percaya bahwa karakter seseorang terlihat dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan tanpa pengawasan.

Dan bagi Hilarius, prinsip itu menjadi pondasi yang ia pegang hingga kini. “Trust adalah segalanya dalam dunia usaha,” ungkapnya.
“Jika kita tidak bisa dipercaya dalam hal kecil, maka tidak ada orang yang akan memberikan kita hal besar.”

Pelajaran dari dua sahabat Norwegia dan Swedia tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Hilarius. Kini, ketika ia membangun Lakaan Timor Primitive dengan filosofi setinggi Gunung Lakaan, ia membawa nilai yang sama: bahwa bisnis besar tidak tumbuh hanya dari kerja keras, tetapi dari integritas yang dijaga sejak masih berupa ‘sebutir permen’. **

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *