Dari Mandalika ke Dunia: Jejak Veda Ega Pratama dan Kebangkitan Motorsport Indonesia

JAKARTA — Di tengah deru mesin dan persaingan ketat balap dunia, nama Veda Ega Pratama kini menjadi simbol harapan baru bagi motorsport Indonesia. Pebalap muda Tanah Air itu mencetak sejarah dengan meraih podium ketiga (P3) pada ajang Moto3 Grand Prix Brasil—sebuah pencapaian yang menandai pertama kalinya pembalap Indonesia naik podium di level tersebut.

Namun, kisah Veda bukan sekadar tentang satu podium. Ini adalah cerita panjang tentang ekosistem, pembinaan, dan transformasi Indonesia sebagai kekuatan baru dalam dunia otomotif global.

Perjalanan Veda tidak bisa dilepaskan dari Pertamina Mandalika International Circuit—sirkuit berstandar internasional yang menjadi rumah bagi lahirnya talenta-talenta balap muda Indonesia.

Sejak pertama kali mencicipi lintasan Mandalika pada 2021 melalui ajang Asia Talent Cup, Veda menunjukkan perkembangan pesat. Ia kemudian mencatat kemenangan ganda pada 2022, hingga akhirnya keluar sebagai juara Asia Talent Cup 2023. Kiprahnya berlanjut melalui Mandalika Racing Series dan berujung pada panggung internasional, termasuk posisi runner-up di Red Bull Rookies Cup 2025 sebelum menembus Moto3.

Lintasan Mandalika bukan sekadar tempat balapan, tetapi ruang belajar yang membentuk mental, teknik, dan daya saing pembalap Indonesia.

Di balik perkembangan ini, peran InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menjadi krusial dalam membangun ekosistem motorsport yang terintegrasi. Bersama InJourney dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Mandalika dikembangkan bukan hanya sebagai sirkuit, tetapi sebagai destinasi sportainment—menggabungkan olahraga, hiburan, dan pariwisata dalam satu kawasan.

Melalui berbagai program seperti Mandalika Racing Series, ekosistem ini membuka jalur pembinaan berjenjang bagi pembalap muda Indonesia untuk naik ke level internasional.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyebut pencapaian Veda sebagai bukti nyata bahwa investasi pada infrastruktur dan pembinaan telah membuahkan hasil.

“Prestasi Veda menunjukkan bahwa Indonesia memiliki talenta yang mampu bersaing di level global. Kami terus berkomitmen membangun ekosistem motorsport yang mendukung lahirnya pembalap-pembalap berkelas dunia,” ujarnya.

Sementara itu, Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menegaskan bahwa keberhasilan Veda memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism kelas dunia.

Menurutnya, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika diarahkan untuk menjadi pusat aktivitas global, tidak hanya melalui event seperti MotoGP dan World Superbike, tetapi juga sebagai tempat lahirnya talenta motorsport Indonesia.

Menuju Grand Prix Indonesia 2026

Kisah ini akan mencapai babak baru saat Veda dipastikan tampil di ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia yang akan digelar pada 9–11 Oktober 2026 di Mandalika.

Penampilannya di depan publik Tanah Air bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga simbol perjalanan—dari seorang pembalap muda yang ditempa di lintasan lokal, hingga menjadi representasi Indonesia di panggung dunia.

Direktur Utama MGPA, Priandhi Satria, menilai podium di Brasil sebagai validasi dari sistem pembinaan yang telah dibangun.

“Ini bukti bahwa pembinaan berjenjang di Mandalika berjalan efektif. Kehadiran Veda di MotoGP Indonesia akan menjadi inspirasi sekaligus memperkuat kebangkitan motorsport nasional,” katanya.

Prestasi Veda Ega Pratama menjadi lebih dari sekadar kemenangan individu. Ia adalah refleksi dari perubahan besar dalam lanskap otomotif Indonesia—dari pasar menjadi pemain, dari penonton menjadi kompetitor.

Dengan dukungan infrastruktur, ekosistem, dan kolaborasi berbagai pihak, Indonesia kini tidak hanya menjadi tuan rumah ajang balap dunia, tetapi juga mulai melahirkan bintang-bintang yang siap bersinar di panggung global.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *