Kembali ke Kampus, Kembali Menginspirasi

Spread the love

Dr. Diah Permana Tirtawati saat menjalani ujian doktoral dari Universitas Udayana.

SEBAGAI dosen praktisi di Politeknik Negeri Bali, Jimbaran, Dr. Diah Permana Tirtawati tidak pernah menyangka bahwa langkah-langkah kecil yang ia jalani justru mampu menginspirasi banyak orang. Tanpa disadarinya, semangatnya dalam berbagi ilmu, mengajar, dan terus belajar telah memotivasi rekan-rekan maupun mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan dan tidak pernah berhenti berkembang.

Keputusan untuk melanjutkan studi ke jenjang S3 sebenarnya tidak datang secara instan. Ketika pandemi Covid-19 melanda, ia merasakan kebingungan yang sama seperti banyak orang lainnya —tidak tahu harus melakukan apa di tengah dunia yang tiba-tiba berhenti. Dalam masa refleksi itulah ia mulai melihat kebutuhan baru dalam dunia kerja, terutama ketika beberapa proses ‘bidding’ dengan pemerintah mensyaratkan kualifikasi Doktor di bidang pariwisata. Persyaratan ini menuntunnya untuk kembali mempertimbangkan pendidikan lanjutan.

Sebelum pandemi, ia sempat merasa ragu untuk kembali kuliah karena perkuliahan tingkat doktoral menuntut kehadiran offline hingga 80 persen—sebuah komitmen besar di tengah kesibukan. Namun situasi berubah total saat Covid-19 memaksa dunia pendidikan beralih ke sistem pembelajaran penuh secara online.

Justru di situlah semangatnya mulai tumbuh kembali. Fleksibilitas belajar daring memberi ruang dan keberanian untuk melangkah.
Perjalanan pendidikannya semakin terbuka saat ia bergabung dengan Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI), sebuah organisasi yang menaungi para pegiat pariwisata dan tokoh masyarakat, khususnya di Bali. Melalui organisasi inilah ia bertemu dengan sosok yang kemudian berperan besar dalam perjalanan akademiknya -Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si dari Universitas Udayana. Sang profesor mendorong dan meyakinkannya bahwa tidak ada kata terlambat untuk kuliah lagi.

Meski sempat gamang karena telah meninggalkan bangku kuliah selama lebih dari 20 tahun sejak menyelesaikan studi S2 di Berlin, Jerman, akhirnya pada tahun 2021 ia resmi memulai pendidikan S3 Pariwisata di Universitas Udayana. Ia masih mengingat dengan jelas momen saat Hari Raya Nyepi di tahun yang sama—seharian penuh ia habiskan untuk menyelesaikan proposal disertasinya, sebuah langkah awal yang penuh tekad.

Proses penyelesaian disertasi bukanlah perjalanan yang mulus. Di balik gelar akademik yang gemilang, tersimpan perjuangan panjang: tumpukan pekerjaan, kesibukan mengajar, tanggung jawab profesional, dan berbagai tantangan yang datang silih berganti. Namun ketekunan dan komitmennya tak pernah pudar. Dengan segala keterbatasan waktu dan tenaga, ia berhasil menyelesaikan disertasinya tepat waktu dan resmi meraih gelar Doktor pada tahun 2024.

Kisah Dr. Diah Permana Tirtawati adalah cerminan nyata bahwa belajar tidak mengenal usia, dan kesempatan selalu datang kepada mereka yang membuka diri. Dedikasinya sebagai pendidik, profesional, dan pembelajar seumur hidup menjadikannya sosok inspiratif bagi dunia pendidikan dan pariwisata Bali.

 

Menggagas Green & Hybrid MICE Lewat Disertasi

Disertasinya tentang “Mengembangkan Model Manajemen Konferensi Hijau-Hibrid Pascapandemi Covid-19 untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Bali” menjadi sebuah karya ilmiah yang sangat relevan dalam menjawab tantangan industri Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) di era baru pariwisata.

Karya ini bukan hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menawarkan solusi nyata untuk membangun industri MICE Bali yang lebih berkelanjutan, inovatif, dan adaptif.

Bagi Dr. Diah Permana Tirtawati, kesempatan adalah sesuatu yang selalu ada bagi mereka yang mau mencoba. “Kesempatan selalu datang, tinggal kita mau mencoba atau tidak. Saya mencoba dan akhirnya berhasil meskipun sempat ragu,” ungkapnya.
Menurutnya, pengalaman merupakan pondasi penting dalam menuliskan disertasi.
“Kalau kita punya pengalaman, kita bisa menuliskannya. Kalau tidak punya pengalaman, mau menulis apa?” tambahnya.

Dr. Diah merupakan satu-satunya Doktor Pariwisata yang mengangkat disertasi khusus mengenai MICE dengan fokus pada dua tema penting: Green MICE dan Hybrid MICE. Konsep hybrid menjadi terobosan strategis, terutama sebagai antisipasi jika terjadi situasi darurat seperti pandemi Covid-19. Dengan memanfaatkan teknologi, penyelenggaraan MICE tetap bisa berjalan, tetap memberikan output ekonomi, dan tetap mampu menghadirkan pengalaman yang bernilai.

Ia menekankan bahwa Hybrid MICE tetap berbayar, sehingga tetap memberikan kontribusi ekonomi bagi penyelenggara maupun daerah tujuan. Menariknya, MICE bukan hanya soal pertemuan atau konferensi; selalu ada elemen budaya yang dimasukkan—mulai dari tarian pembuka hingga atraksi budaya lainnya.
Unsur budaya inilah yang menjadi daya tarik kuat bagi peserta, baik yang hadir langsung maupun yang mengikuti secara daring.

Peserta yang menyaksikan MICE secara online mungkin belum dapat datang langsung ke Bali. Namun, pengalaman budaya yang mereka lihat dapat memicu rasa penasaran dan keinginan untuk berkunjung di tahun berikutnya.
Dengan begitu, event MICE secara tidak langsung menjadi sarana promosi pariwisata Bali yang kuat, tanpa membutuhkan kampanye pemasaran tambahan.

Pemikiran visioner dan pendekatan ilmiah Dr. Diah membuktikan bahwa dunia akademik dan industri dapat berjalan seiring, saling memperkuat. Dengan dedikasi dan inovasinya, ia mendorong MICE Bali memasuki babak baru—lebih hijau, lebih canggih, dan lebih berkelanjutan. **

 

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *