BALI — Perselisihan bisnis yang melibatkan proyek ambisius Marina Bay City di Lombok kian memanas. Di tengah tuntutan transparansi atas dana investor yang dipertanyakan, konflik ini kini bergeser ke arah yang lebih serius, dengan munculnya dugaan intimidasi hingga ancaman kekerasan. Dalam rilis yang diterima media ini pada Sabtu, 21 Maret 2026 tim kuasa hukum pelaku bisnis, Jamie McIntyre membeberkan ancaman yang diterima Jamie beberapa waktu lalu.
Nama CEO Kinnara, Adrian Campbell, kembali menjadi sorotan setelah muncul klaim dari investor sekaligus pelaku bisnis, Jamie McIntyre. Ia menuding bahwa alih-alih memberikan kejelasan terkait laporan keuangan proyek, pihak Campbell justru diduga melakukan serangkaian tindakan yang mengarah pada intimidasi.
Menurut McIntyre, dalam beberapa hari terakhir, sejumlah orang yang disebut sebagai preman lokal mendatangi proyek lain yang tengah ia kembangkan di Bali. Proyek tersebut, menurutnya, tidak memiliki keterkaitan dengan Marina Bay City di Lombok maupun perusahaan pengembangnya. Orang-orang tersebut disebut mengaku mewakili Campbell.
Tak hanya itu, McIntyre juga mengaku menerima pesan WhatsApp langsung dari Campbell. Dalam pesan tersebut, Campbell diduga menuliskan kalimat bernada ancaman, “Jangan lupa tersenyum. Aku akan menikmati apa yang akan terjadi selanjutnya. Sandiwara Anda telah berakhir dengan kehancuran.”
Situasi semakin memanas ketika McIntyre menerima serangkaian pesan lain dari akun WhatsApp bernama “Jay Dee”, yang terdaftar dengan nomor Australia namun diduga berasal dari Thailand—lokasi yang disebut sebagai tempat tinggal Campbell saat ini.
Pesan-pesan tersebut mengandung rujukan pada penggunaan kelompok yang disebut sebagai “Black Shirts” atau “Baju Hitam”, yang diklaim sebagai geng motor, untuk melakukan tindakan kekerasan. Dalam salah satu pesan, pengirim menuliskan, “Para Baju Hitam akan datang untukmu. Mereka kelompok yang ramah. Akuntabilitas adalah prioritas utama mereka… Ini hampir waktunya… akan ada ketukan di pintu.”
Selain itu, McIntyre juga mengaku menerima tangkapan layar dari percakapan di grup WhatsApp yang disebut sebagai “Investor Update”, yang diduga dibuat oleh Campbell. Dalam percakapan tersebut, terdapat pernyataan bernada kekerasan yang secara implisit merujuk kepada dirinya.
“Saya ingin mengumpulkan beberapa preman pengendara motor lokal, menangkapnya, mengambil paspornya, mematahkan kedua tangannya, dan memberinya pesan jangan main dengan uang investor,” demikian isi salah satu pesan yang beredar di grup tersebut. Pesan lain juga menyebut adanya keberadaan anggota geng motor Australia di Bali.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Adrian Campbell maupun pihak Kinnara terkait tuduhan tersebut.
Kasus ini menambah panjang daftar persoalan yang membayangi proyek Marina Bay City, yang sebelumnya telah disorot karena dugaan ketidakjelasan penggunaan dana investor. Di tengah meningkatnya perhatian publik, berbagai pihak kini mendesak adanya penyelidikan menyeluruh untuk memastikan transparansi dan perlindungan terhadap para investor.
Seperti diketahui, Kuasa hukum Adrian James Campbell dan Kinnara Limited dari kantor hukum Hendarman Law Firm menyampaikan adanya dugaan penyalahgunaan dana perusahaan oleh manajemen PT Marina Bay Investments.
Atas dugaan tersebut, pihak Adrian disebut telah mengajukan laporan kepada Kepolisian Daerah Bali untuk dilakukan investigasi lebih lanjut.
Selain itu, mereka juga menyatakan telah meminta dilaksanakannya rapat umum pemegang saham guna memperoleh transparansi terkait laporan keuangan perusahaan.***

