DENPASAR – Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian global. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang mencapai 123,8 atau tumbuh 5,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), sekaligus berada di zona optimistis (di atas 100).
Secara bulanan, IPR juga mencatat kenaikan sebesar 0,5 persen (month to month/mtm). Peningkatan ini didorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Hari Raya Nyepi dan Idulfitri, yang mendorong konsumsi masyarakat.
Kenaikan konsumsi terutama terjadi pada sejumlah komoditas ritel seperti bahan bakar kendaraan bermotor (BBM), pakaian, serta makanan dan minuman. Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan oleh Bank Indonesia melibatkan 100 responden pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya untuk menangkap pergerakan konsumsi secara dini.
Berdasarkan komponen pembentuknya, sejumlah subsektor mencatat pertumbuhan bulanan tertinggi. Kategori barang lainnya—meliputi farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan bahan kimia rumah tangga—tumbuh 2,4 persen (mtm). Disusul bahan bakar kendaraan bermotor serta peralatan informasi dan komunikasi yang masing-masing naik 1,5 persen (mtm).
Selain itu, subsektor sandang dan barang budaya serta rekreasi masing-masing tumbuh 1,2 persen (mtm), sementara makanan, minuman, dan tembakau meningkat 0,8 persen (mtm).
Di sisi lain, tingkat konsumsi yang meningkat masih terkendali. Inflasi Bali pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,81 persen (yoy), tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Dari sisi pembiayaan, data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) menunjukkan kredit pada lapangan usaha perdagangan hingga Februari 2026 tumbuh 1,46 persen (yoy), menandakan dukungan sektor keuangan terhadap aktivitas ritel.
Optimisme pelaku usaha juga tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). Untuk tiga bulan ke depan, IEP Mei 2026 tercatat sebesar 174, meningkat dari April sebesar 170. Sementara untuk enam bulan mendatang, IEP Agustus 2026 mencapai 194, lebih tinggi dibandingkan Juli sebesar 184. Kedua indikator tersebut berada di zona optimistis.
Guna menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga kebijakan pada Maret 2026. Pemerintah juga melanjutkan kebijakan subsidi BBM serta memperkuat peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui operasi pasar murah untuk komoditas strategis.
Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya menjaga kestabilan harga, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan pertumbuhan ekonomi Bali tetap berkelanjutan. **

