Menjaga Bali Lewat Aksi Nyata: Enam Tahun Perjalanan Pali Pali

Spread the love

SANUR – Pagi di Pantai Segara Ayu, Sanur, Senin (20/4/2026), terasa berbeda. Di antara hembusan angin laut dan suara ombak yang tenang, puluhan orang yang tergabung dalam  komunitas paiketan semeton Pada Lingsir, Pada Liang (Pali-Pali)  tampak menyusuri garis pantai, memungut sampah satu per satu tanda kecintaannya pada Bali. Ini bukan sekadar aktivitas bersih-bersih biasa, pagi itu menjadi penanda perjalanan panjang sebuah komunitas yang lahir dari kepedulian antar sesana : Pali Pali Bali  ternyata genap berusia enam tahun pada Senin, 20 April 2026.

Sekitar 99 anggota berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh makna. Perayaan ulang tahun ke-6 ini tidak diisi dengan kemewahan, melainkan dengan aksi nyata—membersihkan pantai, berbagi tawa, bersenda gurau hingga memotong kue bersama. Semua berlangsung hangat, mencerminkan nilai kebersamaan yang sejak awal menjadi napas organisasi ini.

Dari Kepedulian, Menjadi Gerakan

Enam tahun lalu Pali Pali lahir dari kegelisahan sederhana: melihat Bali yang perlahan dibebani persoalan lingkungan, terutama sampah. Di tengah pertumbuhan pariwisata yang pesat, muncul kesadaran bahwa keindahan Pulau Dewata tidak bisa hanya dinikmati, tetapi juga harus dijaga.

Berbagi dengan salah seorang petugas pembersih sampah di Pantai Sanur

Dari gerakan kecil yang dilakukan secara sukarela, Pali Pali tumbuh menjadi komunitas yang konsisten mengedepankan aksi langsung di lapangan n khususnya di Pantai Sanur. Mereka hadir di pantai, sungai, hingga kawasan publik, membawa pesan sederhana—menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

Tidak hanya soal kebersihan, Pali Pali juga mengusung filosofi lokal Bali, Tri Hita Karana—harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Nilai inilah yang menjadi fondasi setiap langkah mereka.

Regenerasi dan Semangat Baru

Momentum ulang tahun kali ini juga ditandai dengan pengukuhan kepengurusan baru untuk periode 2026–2029. Tongkat estafet kepemimpinan kini berada di tangan Ketut Ardhana setelah I Dewa Putu Arsa Madangan purna tugas memimpin Bali.

Kompak dalam peralihan kepemimpinan dari I Dewa Putu Arsa Madangan kepada Ketua Bali, Ketut Ardhana

Dalam sambutannya, Ardhana menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program-program yang telah berjalan baik, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian lingkungan.

“Kami akan tetap berpegang teguh pada Tri Hita Karana, saling membantu, saling menjaga dan tetap peduli pada keseimbangan dengan alam,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa Pali Pali bukan sekadar komunitas, melainkan ruang untuk berbagi energi positif dan memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga Bali.

Lebih dari Sekadar Aksi Lingkungan

Perjalanan Pali Pali selama enam tahun tidak hanya diisi dengan kegiatan bersih-bersih. Mereka juga aktif dalam kegiatan sosial, edukasi lingkungan, hingga tirta yatra—sebuah perjalanan spiritual yang memperkuat hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Bagi para anggotanya, menjaga Bali bukan sekadar tugas hari ini, tetapi warisan untuk masa depan. Ada keyakinan bahwa apa yang dilakukan sekarang akan dirasakan oleh generasi berikutnya.

Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Bali—dari persoalan sampah hingga tekanan pariwisata—kehadiran komunitas seperti Pali Pali menjadi pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil, dilakukan bersama, dan dijaga secara konsisten.

Merawat Bali, Merawat Masa Depan

Perayaan sederhana di Pantai Segara Ayu itu pun berakhir dengan nyanyian dan tawa. Namun di balik itu, tersimpan makna yang lebih dalam: tentang cinta pada tanah kelahiran, tentang tanggung jawab menjaga alam, dan tentang harapan yang terus hidup.

Para Pengurus Baru periode 2026 – 2029

Pali Pali mungkin hanya satu dari sekian banyak komunitas di Bali. Namun semangatnya mencerminkan sesuatu yang lebih besar—bahwa Bali tidak hanya milik hari ini, tetapi juga milik anak cucu di masa depan.

Dan selama masih ada tangan-tangan yang rela memungut sampah di pagi hari, harapan itu akan selalu ada.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *