Dudi Mayanto: Dari Dasi hingga Destinasi

Spread the love

DALAM perjalanannya di dunia pariwisata, Dudy Mayanto pernah merasakan langsung bagaimana cara berpakaian bisa menjadi cerita tersendiri. Saat bertugas di Pandanaran, ia kerap melakukan sales call ke berbagai kota, termasuk Bali. Dari sinilah jaringannya dengan Pulau Dewata mulai terbentuk.

BACA JUGA: 4 Dekade ‘Traveling’ Dudy Mayanto

Ada satu kisah yang selalu ia kenang. Setiap kali melakukan sales call, Dudy selalu tampil rapi dengan dasi. Di Jakarta, penampilan formal itu adalah hal yang wajar.

Namun, ketika ia datang dengan dasi ke Kuta—bertemu wisatawan asing yang tampil santai dengan celana pendek dan sandal jepit—penampilannya justru menjadi bahan candaan. Dari pengalaman itulah Dudy belajar satu hal penting: membangun kedekatan tidak melulu soal penampilan resmi, melainkan kemampuan beradaptasi dengan budaya dan suasana.

Sejak saat itu, ia memutuskan untuk melepas dasinya setiap kali menghadapi pertemuan informal di Bali. Transformasi dalam karier Dudy tidak hanya terjadi pada gaya berpakaiannya, tetapi juga pada teknologi yang mengiringi pekerjaannya.

Ia adalah saksi hidup bagaimana industri pariwisata Indonesia tumbuh bersama perubahan teknologi komunikasi: dari telex, pager, telepon umum, handy talky, hingga telepon genggam generasi awal. Setiap masa menghadirkan tantangan berbeda, namun semangatnya tetap sama—membangun pariwisata Indonesia.

Lebih dari sekadar profesi, perjalanan Dudy Mayanto adalah kisah tentang kerja keras, konsistensi, dan cinta pada dunia pariwisata. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika pariwisata Indonesia selama lebih dari empat dekade. **

 

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *