GIANYAR – Deretan inovasi warga Gianyar kembali mencuri perhatian. Salah satunya, Rumah Konservasi Kunang-Kunang di Desa Taro, Tegallalang, berhasil meraih juara lomba karya inovatif Kabupaten Gianyar 2025 dan akan mewakili Gianyar di tingkat Provinsi Bali.
Inisiatif yang digagas I Wayan Wardika ini menggabungkan konservasi lingkungan dengan ekowisata ramah alam. Wardika membangun laboratorium mini di habitat kunang-kunang untuk meneliti siklus hidup, pembiakan, hingga pelepasliaran serangga bercahaya tersebut.
“Kunang-kunang adalah penanda kualitas lingkungan. Jika mereka hilang, berarti ekosistem kita sedang tidak baik-baik saja,” ungkap Wardika usai menerima penghargaan pada resepsi HUT ke-80 RI di Balai Budaya Gianyar, Minggu (17/8).
Wardika menargetkan kunang-kunang memiliki radius terbang hingga 2 kilometer dengan melibatkan 35 petani dan lahan 27 hektar. Saat ini, baru empat petani yang bergabung dengan total lahan kurang dari satu hektar.
Selain sebagai konservasi, Rumah Kunang-Kunang juga menjadi pusat edukasi sekaligus destinasi ekowisata. “Kami ingin menunjukkan bahwa pariwisata bisa berkualitas tanpa merusak alam,” tegasnya.
Selain Wardika, penghargaan juga diberikan kepada: I Komang Wiratama Putra (pertanian, budidaya bawang merah), I Ketut Adi Putra (kelautan, jukung sky boat), I Nyoman Rupadana (industri, pulpen perak motif Celuk), Komang Yatik (UMKM, produk kecantikan dari kesumba keling), HNS Studio/Dewa Gede Raka Jana Nuraga (ekonomi kreatif, HNS Creative Movement).
Dengan inovasi-inovasi ini, Gianyar kian menegaskan diri bukan hanya kaya budaya, tapi juga pusat gagasan kreatif berkelanjutan. **

