DENPASAR – Semangat memperkuat ekosistem digital yang inklusif dan terintegrasi di Bali kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan Bali Digital Innovation Festival (BALIGIVATION) 2025, yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali. Acara ini menjadi wujud nyata komitmen kolaboratif Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah dalam menjadikan Bali sebagai role model digitalisasi inklusif di Indonesia.
Puncak acara BALIGIVATION 2025 yang digelar bertepatan dengan Hari Pahlawan dihadiri oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Fillianingsih Hendarta, Asisten Gubernur Bank Indonesia Dicky Kartikoyono, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam, serta Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja.
Dalam kesempatan ini, Bank Indonesia meluncurkan berbagai strategi dan inovasi untuk mempercepat transformasi digital di Bali, meliputi Roadmap TP2DD se-Provinsi Bali 2026–2030, Program Starterpack SIM Card & UE untuk mendukung Bali Smart Tourism, Festival Pasar Rakyat Bali Go Digital, QRIS Tap Mall di Mall Bali Galeria sebagai mall S.I.A.P QRIS Tap pertama di Bal dan Awarding Ceremony BALIGIVATION 2025 serta QJI Bali dan Balinusra
Selain peluncuran program, BALIGIVATION juga diisi dengan beragam lomba seperti Semeton Banjar Digital (SANDI), Semeton Eling Digital, Cerdas Cermat Digital, Inovasi Digital, hingga kompetisi pitching bertajuk “How Digital Are You?” yang melibatkan komunitas, pelajar, dan pelaku usaha digital di Bali.
Dalam sambutannya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Fillianingsih Hendarta menegaskan bahwa transformasi sistem pembayaran nasional telah mengalami lompatan besar dalam lima tahun terakhir.
“QRIS kini digunakan oleh lebih dari 58 juta pengguna dan 41 juta merchant hingga Triwulan III 2025, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,9 kuadriliun. Ini menunjukkan sistem pembayaran digital telah menjadi bagian penting dari ekonomi nasional,” ujarnya.
Sebagai destinasi wisata dunia, Bali dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi contoh penerapan digitalisasi di sektor pariwisata. Untuk itu, Bank Indonesia bersama mitra strategis meluncurkan tiga inisiatif utama untuk memperkuat ekosistem pembayaran digital wisata yakni pertama, Indonesia Tourist Travel Pack, berisi SIM card, UE chip-based, dan panduan registrasi e-wallet. Kedua, Buku Pedoman QRIS Wisata Nusantara, berisi rekomendasi destinasi, aktivitas budaya, kuliner, dan pengalaman lokal dan ketiga, Tourism Information Center, one-stop service informasi dan bantuan perjalanan wisatawan.
“Ketiga inisiatif ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara ramah wisatawan dan semakin siap menuju ekosistem pariwisata yang cashless dan digital,” tambah Fillianingsih.
Mewakili Gubernur Bali, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi Bali Dr. drh. Luh Ayu Aryani, M.P. menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan BALIGIVATION 2025.
“Festival ini menjadi wadah untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dengan kemajuan teknologi, mewujudkan Bali Pulau Digital yang terhubung, inklusif, dan berdaya saing tinggi berbasis teknologi dengan tetap berlandaskan adat,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan tiga arah kebijakan utama digitalisasi yakni Membangun kebijakan digital dari hulu ke hilir, Memperluas infrastruktur digital hingga pelosok, dan Meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan publik dan kehidupan sehari-hari.
Muhammad Neil El Himam dari Kemenparekraf menekankan pentingnya sinergi digital untuk memperkuat potensi ekonomi kreatif.
“Nilai pasar ekonomi kreatif Indonesia diproyeksikan mencapai USD 200 miliar pada tahun 2030, didukung oleh lebih dari 143 juta pengguna media sosial. Diperlukan kolaborasi lintas sektor agar transformasi digital ini berkelanjutan,” jelasnya.
Menurutnya, arah pengembangan ekonomi kreatif nasional berpegang pada konsep Asta Ekraf—delapan pilar kebijakan utama penguatan ekosistem ekonomi kreatif nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan III 2025 mencapai 5,88% (yoy), tertinggi keempat secara nasional.
“Pertumbuhan ini tidak lepas dari ekspansi digitalisasi yang semakin masif di Bali. Digitalisasi telah menjadi mesin penggerak ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dampak digitalisasi terlihat dari tiga transmisi utama: terjaganya inflasi, meningkatnya inklusi keuangan, serta meluasnya akses pasar. Ketiganya, lanjut Erwin, hanya dapat dicapai melalui prinsip 3C: commitment, collaboration, dan communication.
BALIGIVATION 2025 menjadi simbol langkah nyata dalam mewujudkan Bali Pulau Digital yang inklusif dan terintegrasi—mendukung visi Indonesia menuju ekonomi digital berdaya saing global dengan kearifan lokal sebagai fondasinya.***

