OJK Imbau Masyarakat Pahami Fundamental Sebelum Investasi Kripto

Spread the love

JAKARTAOtoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Blockchain Indonesia resmi membuka Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap aset keuangan digital, termasuk kripto, agar dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menegaskan pentingnya pemahaman fundamental sebelum bertransaksi kripto.

“Kita bertransaksi kripto harus seimbang, berbasis pada analisis fundamental data yang kuat, serta tetap melihat potensi peluang ke depan,” ujarnya dalam pembukaan BLK 2026 di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, perdagangan aset kripto kini telah menjadi bagian nyata dari aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, OJK terus mendorong penguatan tata kelola industri serta perlindungan konsumen guna menjaga keberlanjutan ekosistem.

OJK juga menilai aset kripto memiliki potensi sebagai masa depan pasar keuangan (the future of financial market) yang dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional, termasuk dari sisi penerimaan pajak.

Data Direktorat Jenderal Pajak menunjukkan penerimaan pajak dari aset kripto mencapai Rp796,73 miliar sepanjang 2025, dan meningkat menjadi Rp1,96 triliun hingga Februari 2026.

Sementara itu, OJK mencatat nilai transaksi aset kripto pada 2025 mencapai Rp482,23 triliun, menurun dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp650,61 triliun. Penurunan ini dipengaruhi faktor global serta siklus pasar kripto.

Meski demikian, tingkat adopsi kripto di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Adi menyebut Indonesia menempati peringkat ketujuh dalam Global Crypto Adoption Index 2025, yang mencerminkan tingginya partisipasi masyarakat dalam penggunaan aset digital.

Dalam kesempatan tersebut, OJK mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun ekosistem aset keuangan digital yang kuat, kompetitif, dan memberikan manfaat luas bagi perekonomian nasional.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia, Robby, menyampaikan bahwa industri aset keuangan digital di Indonesia saat ini memiliki fondasi yang solid dan mampu bersaing di tingkat global.

Menurutnya, ekosistem kripto di Indonesia dibangun atas tiga pilar utama, yakni bursa sebagai infrastruktur pencatatan transaksi, pedagang sebagai akses bagi investor ritel, serta kliring dan kustodian sebagai penjamin keamanan aset.

“Ketiga pilar ini memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi dalam menjaga integritas ekosistem kripto di Indonesia,” ujarnya.

Bulan Literasi Kripto merupakan program edukasi berkelanjutan yang diselenggarakan OJK bersama ABI. Pada 2026, kegiatan ini akan digelar di sejumlah kota, antara lain Jakarta, Solo, Yogyakarta, dan Manado.

BLK 2026 juga mencakup tiga program utama, yakni literasi kripto untuk masyarakat umum, literasi blockchain untuk mahasiswa, akademisi, dan pengembang, serta literasi kripto bagi aparat penegak hukum.

Dari sisi industri, hingga Februari 2026 jumlah akun konsumen kripto di Indonesia telah mencapai 21,07 juta, menunjukkan meningkatnya partisipasi masyarakat seiring perkembangan ekosistem.

Kegiatan pembukaan BLK 2026 turut dihadiri Anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan, Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya, serta para pelaku industri aset keuangan digital dan kripto.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *