DENPASAR – Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas inflasi di tengah gejolak geopolitik global, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali menggelar kegiatan BALINOMICS pada 21 April 2026.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, melalui welcoming remarks, serta keynote speech dari Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra. Acara ini turut dihadiri jajaran pimpinan daerah, akademisi, konsul jenderal negara sahabat, perbankan, hingga pelaku usaha.
Sejumlah narasumber tingkat daerah dan nasional hadir dalam forum tersebut, di antaranya Advisor KPwBI Provinsi Bali Indra Gunawan Sutarto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana Prof. Wiwin Setyari, Ekonom Senior Samuel Sekuritas Fithra Faisal Hastiadi, serta Redaktur Pelaksana Investor Daily Nasori.
Dalam sambutannya, Erwin Soeriadimadja menyampaikan apresiasi atas capaian pertumbuhan ekonomi Bali yang pada tahun 2025 mampu tumbuh sebesar 5,82 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan nasional dan menjadi pertumbuhan tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Capaian tersebut juga didukung oleh inflasi yang tetap terkendali.
Namun demikian, pihaknya mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang terjadi pada awal 2026. Konflik tersebut diperkirakan berdampak pada sektor pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian Bali, terutama melalui terganggunya konektivitas penerbangan internasional, khususnya dari kawasan Eropa, serta kenaikan harga tiket pesawat.
Berdasarkan asesmen terkini, kondisi tersebut diperkirakan dapat menimbulkan potensi kehilangan ekonomi Bali pada 2026 sebesar 0,05 persen.
Untuk menjaga daya tahan ekonomi Bali, Bank Indonesia menyiapkan empat pilar strategis. Pertama, menjaga kinerja sektor pariwisata sebagai backbone ekonomi Bali. Kedua, mendorong investasi sebagai new hero pertumbuhan ekonomi. Ketiga, memperkuat sektor pertanian untuk diversifikasi sumber pertumbuhan. Keempat, mendorong UMKM dan digitalisasi sebagai penyangga sekaligus katalisator ekonomi.
Sekda Provinsi Bali, Dewa Made Indra, juga mengapresiasi dedikasi Bank Indonesia dalam menjaga perekonomian Bali agar tetap tumbuh berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
Dalam sesi diskusi, para narasumber menyoroti pentingnya penguatan sisi supply untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026. Ekonom Senior Samuel Sekuritas, Fithra Faisal, menilai stimulus fiskal tetap dibutuhkan di tengah perlambatan permintaan masyarakat akibat gejolak geopolitik Timur Tengah.
Menurutnya, strategi front-loaded fiscal menjadi salah satu langkah percepatan perputaran modal dari sisi supply. Hal ini diperkuat oleh Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bali, Supendi, yang menyampaikan bahwa transaksi belanja APBN di Bali pada triwulan I 2026 tumbuh positif, terutama pada belanja modal.
Sementara itu, Indra Gunawan Sutarto menilai digitalisasi menjadi game changer dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Bali. Pergeseran preferensi transaksi masyarakat ke arah digital diperkirakan semakin kuat, didukung meningkatnya partisipasi ekonomi generasi Y, Z, dan Alpha.
Pada sektor pariwisata, optimalisasi transaksi digital melalui QRIS cross border dinilai penting untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi wisatawan.
Selain digitalisasi, diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi juga menjadi perhatian penting. Prof. Wiwin Setyari mengungkapkan bahwa sekitar 50 persen kontribusi pariwisata nasional berasal dari Bali. Kondisi ini menunjukkan besarnya peran Bali dalam menopang pariwisata nasional, namun sekaligus menegaskan tingginya ketergantungan ekonomi daerah terhadap sektor tersebut.
Berkaca dari masa pandemi, struktur ekonomi Bali yang terlalu terkonsentrasi pada pariwisata terbukti rentan terhadap guncangan. Karena itu, Pemerintah Provinsi Bali dinilai perlu terus mendorong transformasi ekonomi agar diversifikasi pertumbuhan dapat tercapai dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Dalam perspektif media, Redaktur Pelaksana Investor Daily, Nasori, menilai pemberitaan mengenai eskalasi konflik Timur Tengah turut memengaruhi persepsi publik terhadap kondisi ekonomi Bali. Karena itu, diperlukan keseimbangan dalam penyampaian informasi agar masyarakat memperoleh fakta yang relevan, mudah dipahami, serta tetap menjaga konteks dan akurasi.
Secara keseluruhan, diskusi BALINOMICS menegaskan pentingnya penguatan sisi supply, percepatan digitalisasi, dan diversifikasi ekonomi untuk menjaga resiliensi Bali di tengah gejolak global.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan kick off Program Pendidikan Kebanksentralan Tahun 2026 bersama lima perguruan tinggi di Bali. Program ini memiliki tiga pilar utama, yakni pembelajaran, penelitian, dan pemberdayaan, selaras dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Program tersebut bertujuan meningkatkan literasi, kapasitas akademik, serta pengembangan sumber daya manusia unggul yang dapat berkontribusi terhadap efektivitas kebijakan Bank Indonesia dan pencapaian visi kelembagaan ke depan. **

