DENPASAR – Perselisihan bisnis terkait proyek pengembangan Marina Bay City di Lombok kembali memanas setelah muncul dugaan intimidasi dan ancaman dalam konflik antara pengusaha Jamie McIntyre dan CEO Kinnara, Adrian Campbell.
Menurut pernyataan yang disampaikan Jamie McIntyre, ia menerima sejumlah pesan yang diduga berisi ancaman setelah tim hukumnya beberapa kali meminta dokumen keuangan terkait dana investor yang disebut-sebut terhubung dengan proyek Marina Bay City. Permintaan tersebut, kata McIntyre, diajukan secara resmi kepada Adrian Campbell, pengacara Campbell di Jakarta, serta pejabat keuangan Kinnara.
McIntyre mengklaim bahwa dalam beberapa hari terakhir sejumlah orang yang disebutnya sebagai “preman lokal” datang ke proyek lain yang sedang ia kembangkan di Bali. Proyek tersebut, menurutnya, tidak berkaitan dengan proyek Marina Bay City di Lombok maupun perusahaan pengembangnya.
Selain itu, McIntyre mengaku menerima pesan WhatsApp dari nomor yang disebut milik Adrian Campbell yang berisi kalimat bernada ancaman. “Jangan lupa tersenyum. Aku akan menikmati apa yang akan terjadi selanjutnya. Sandiwara Anda telah berakhir dengan kehancuran,” demikian bunyi pesan yang diklaim diterima McIntyre.
Tak lama kemudian, McIntyre juga menyebut menerima serangkaian pesan dari akun WhatsApp bernama “Jay Dee” yang terdaftar pada nomor telepon Australia. Pesan tersebut, menurut McIntyre, merujuk pada dugaan penggunaan kelompok yang disebut sebagai “Black Shirts” untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap dirinya.
Menurut tim hukum Jamie McIntyre, mereka telah menerima hasil investigasi profesional yang dilakukan di Australia mengenai identitas orang yang mengirim pesan-pesan tersebut di atas dengan menggunakan nama profil ‘Jay Dee’. “Kami telah diberitahu bahwa ini adalah hasil murni dari investigasi tersebut,”ujar tim hukum Jamie McIntyre.
Dalam salah satu pesan yang dikutip McIntyre, pengirim menyatakan, “Para Baju Hitam akan datang untukmu. … Akan ada ketukan di pintu.” Selain itu, McIntyre juga mengaku menerima tangkapan layar percakapan dari sebuah grup WhatsApp yang diduga berkaitan dengan investor proyek tersebut. Menanggapi pesan tersebut, McIntyre mengatakan dirinya tidak merasa terintimidasi dan tetap akan mendorong proses hukum terkait dugaan penyalahgunaan dana investor. “Saya tetap membantu pihak berwenang untuk menelusuri dugaan penipuan terkait dana investor,” kata McIntyre dalam keterangannya.
Berdasarkan pencarian yang dilakukan di Australia oleh Jamie McIntyre hari ini, Jaxson Keith Dilger tampaknya adalah seorang pria Australia yang diyakini lahir pada Juli 1970, dengan catatan yang menghubungkannya dengan Scarborough, Australia Barat (kode pos 6019) termasuk alamat di 81 Sackville Tarrace, Scarborough dan nomor ponsel 0417095696, orang ini yang mencoba mengancam Jamie McIntyre melalui pesan WhatsApp beberapa hari yang lalu.

Menurut tim hukum Jamie McIntyre, mereka telah menerima hasil investigasi profesional yang dilakukan di Australia mengenai identitas orang yang mengirim pesan-pesan tersebut di atas menggunakan nama profil “Jay Dee”. Kami diberitahu bahwa, secara singkat, ini adalah hasil investigasi tersebut yang tidak diubah.
Sengketa Transparansi Dana Investor
Perselisihan ini berawal dari perpecahan antara McIntyre dan Campbell dalam perusahaan yang sebelumnya dibentuk untuk mengembangkan proyek Marina Bay City di Lombok. McIntyre menyatakan bahwa sebagian dana investor yang dihimpun melalui perusahaan Kinnara di Australia disebut belum dapat dipertanggungjawabkan. Dana tersebut, menurutnya, awalnya dimaksudkan untuk mendukung pengembangan proyek melalui perusahaan pengembang di Indonesia, yakni PT Marina Bay Investments.
Ia mengklaim sebagian besar dana tersebut tidak pernah ditransfer ke perusahaan pengembang proyek di Indonesia. Karena itu, tim hukum McIntyre disebut telah berulang kali meminta sejumlah dokumen keuangan untuk memastikan alur penggunaan dana investor. Dokumen yang diminta, menurut McIntyre, antara lain meliputi laporan rekening bank, catatan rekening investor, dokumentasi transfer bank, riwayat transaksi, serta dokumen keuangan lain yang terkait.
Menurut sejumlah pihak yang mengikuti perkembangan kasus ini, penyampaian dokumen keuangan tersebut dinilai dapat menjadi langkah paling cepat untuk memberikan kejelasan kepada para investor.
Potensi Konsekuensi Hukum
Sejumlah pengamat hukum menilai bahwa jika dugaan intimidasi dalam sengketa bisnis tersebut terbukti, maka perkara tersebut berpotensi meluas dari sengketa perdata menjadi penyelidikan pidana. Pengamat juga menilai konflik bisnis dalam proyek pengembangan berskala besar memang bukan hal yang jarang terjadi. Namun, dugaan penggunaan intimidasi terhadap pihak yang berselisih dapat meningkatkan risiko pelanggaran hukum yang lebih serius.
Kontroversi ini juga memicu kekhawatiran di kalangan investor yang menginginkan kepastian terkait pengelolaan dana yang sebelumnya dialokasikan untuk proyek Marina Bay City Lombok.Sejumlah pihak menilai persoalan tersebut sebenarnya dapat diselesaikan melalui transparansi penuh atas catatan keuangan yang diminta. Namun hingga kini, menurut McIntyre, dokumen tersebut belum disampaikan.
McIntyre juga menyebut bahwa Adrian Campbell sebelumnya sempat diundang menghadiri pertemuan di Bali untuk membahas kemungkinan penyelesaian komersial yang bertujuan melindungi kepentingan investor. Namun, menurutnya, undangan tersebut tidak dihadiri.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Adrian Campbell maupun perusahaan Kinnara terkait tuduhan tersebut. Sementara itu, para investor dan pihak-pihak yang mengikuti perkembangan sengketa ini masih menunggu kejelasan mengenai laporan keuangan dan penggunaan dana investor yang menjadi inti dari perselisihan tersebut. **

