Sembilan Seniman Gelar Pameran “Reflection” di Sanur

Spread the love

By  Sandra Gisela

SANUR, GLOBALONE.ID – Sembilan orang seniman menggelar pameran seni rupa bertajuk “Reflection” di Santrian Art Gallery, Sanur, Jumat (09/05/2025). Pameran tersebut  berlangsung mulai 9 Mei hingga 27 Juli dengan menghadirkan 34 lukisan dua dimensi dan 3 lukisan tiga dimensi yang dikuratori oleh Dedi Yuniarto.

Sembilan perupa yang terlibat terdiri atas Priyanto “Omplong”, Agung “Pekik” Hanafi Purboaji, Dedy Sufriadi, Deskhairi, Hayatuddin, Hono Sun, Riki Antoni, Robi Fathoni, dan Yudi Sulistyo. Sang curator, Dedi, mengatakan pihaknya telah mempersiapkan materi pameran sejak akhir tahun 2021 yang lalu.

“Pemilihan tema yang relevan serta selaras dengan gagasan kreatif masing-masing seniman menjadi fokus utama, di samping pencarian ruang pameran yang tepat untuk mewadahi narasi tersebut,” kata Dedi di Santrian Art Gallery, Sanur, Jumat (09/05/2025).

Ada dua hal utama yang direfleksikan dalam tiap-tiap karya seni. Pertama adalah refleksi dalam hubungan dirinya sendiri atau refleksi intrapersonal. Konsep pertama ini dipahami sebagai kehidupan yang dibimbing melalui olah refleksi dan fokus terhadap di mana dan bagaimana diri kita saat ini (hic et nunc). Pameran untuk “hic et nunc” sendiri telah digelar pada tahun 2023 di Bottega and Artisan, Alam Sutera, Tangerang.

Refleksi yang kedua, yakni hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya, merupakan hal yang disajikan secara gamblang dalam pameran di Santrian Art Gallery. Hal ini merupakan respons atas perubahan iklim dan pemanasan global yang berdampak pada bencana alam selama dua dekade ke belakang. Selama tubuh material manusia berinteraksi dengan tanah, air, udara, dan matahari, selama itu pula jiwa manusia mengalir meresapi alam semesta.

“Kami merangkai tiga kata, yakni cerminan, lantunan (dialektika), dan pemikiran, yang ketiganya saling melengkapi. Manusia adalah cerminan dari eksistensi alam itu sendiri, sebab dari 118 elemen di bumi, sebanyak 21 elemen di antaranya terkandung di dalam tubuh manusia,” bebernya.

Salah satu seniman yang tergabung, Dedy Sufriadi, semula sempat berhenti sebentar ketika pandemi melanda. Namun, saat ini dia memamerkan lima lukisan karyanya yang bertemakan hypertext. Tema tersebut sejalan dengan studinya di jenjang magister mengenai teks dan sejarahnya.

“Selama ini, kita tidak pernah kepikiran bahwa teks itu ternyata bisa jadi elemen seni lukis kontemporer. Nah, itu yang saya buat,” kata Dedy kepada wartawan, Jumat (09/05/2025).

Dedy terinspirasi dari hobinya yang gemar membaca. Beberapa bagian yang dia baca akan dilukiskan ke atas kanvas menggunakan berbagai bentuk alat yang sesuai dengan karya yang ingin ditampilkan. Menurutnya, dalam berkarya tidak perlu memikirkan hal-hal berat atau rumit, sekadar hal yang paling dekat dengan kita dapat dijelmakan menjadi sebuah karya kompleks.

“Teks ini bisa jadi bagian dari garis. Kalau diwarnai itu bisa jadi elemen lukisan yang menarik. Sebenarnya, pemakaian teks ini di lukis-lukis tradisional Bali sudah ada. Mereka memakai gambar, terus ada teks. Namun, jarang sekali seniman yang memang eksplorasi teks menjadi lukisan,” tutupnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *