Dukung Pertanian Organik di Kedisan,The Nusa Dua Dorong Produktivitas untuk Menjadi Pemasok Pariwisata

GIANYAR — Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan kembali ditunjukkan oleh The Nusa Dua – ITDC melalui dukungan terhadap sektor pertanian organik di Bali. Kali ini, perhatian diberikan kepada Kelompok Petani Kedisan Mandiri di Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, melalui kegiatan bertajuk Green Journey yang dilaksanakan pada Selasa, 29 Juli 2025.

General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, mengungkapkan apresiasinya atas ketekunan kelompok tani dalam mempertahankan praktik pertanian organik di tengah arus modernisasi dan kemudahan instan. Menurutnya, kegiatan pertanian semacam ini memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pariwisata Bali, tidak hanya dari sisi aktivitas edukatif, tetapi juga dari hasil produk pertaniannya.

“Apa yang dilakukan masyarakat Kedisan ini sangat positif. Harapannya, hasil produksi mereka ke depan dapat mendukung kebutuhan pariwisata, bahkan bisa disalurkan ke Kawasan The Nusa Dua,” ujarnya.

Namun, Dwiatmika juga menyadari bahwa untuk menjadikan hasil pertanian lokal sebagai bagian dari rantai pasok industri pariwisata memerlukan proses, waktu, dan kerja keras. Meski demikian, pihaknya menegaskan komitmennya untuk terus memberikan dukungan, termasuk dalam penanganan tantangan pertanian seperti serangan hama tikus.

Ketua Kelompok Petani Kedisan Mandiri, Putu Yoga Wibawa, menjelaskan bahwa kelompoknya berdiri sejak 25 Desember 2020. Keputusan untuk beralih ke sistem pertanian organik diambil sebagai respons atas semakin menurunnya kualitas struktur tanah akibat penggunaan bahan kimia dalam pertanian konvensional.

Saat ini, mereka mengelola lahan organik seluas 4 hektar, yang mampu menghasilkan sekitar 20 ton gabah per panen. Setelah diproses, menjadi sekitar 10 ton beras organik. Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 4–5 ton yang dijual ke pasar. Sisanya digunakan untuk ketahanan pangan lokal dan kegiatan sosial.

“Fokus kami memang pada ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Namun tentu kami berharap hasil panen dapat terus meningkat agar mampu menyuplai kebutuhan pasar yang lebih luas,” jelasnya.

Dalam perjalanan pengembangannya, kelompok tani ini juga telah menerima bantuan dari The Nusa Dua berupa dua ekor sapi dara, yang tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan produksi pupuk kompos. Ke depan, mereka berharap ada dukungan lanjutan dari The Nusa Dua dalam pengendalian hama secara ramah lingkungan, misalnya melalui pengadaan burung hantu Tyto alba sebagai predator alami tikus.

Berkat komitmennya dalam menjalankan praktik pertanian organik berkelanjutan, Kelompok Petani Kedisan Mandiri juga kerap menjadi tujuan kunjungan edukatif dari wisatawan domestik dan mancanegara.***igo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *