Jujur dan Kerja Keras: Teladan Hidup dari Sang Ayah

Spread the love

KESUKSESAN  Wayan Suena sebagai pengusaha pariwisata bukan hanya buah kerja keras dan kecerdikan dalam melihat peluang, tetapi juga hasil dari didikan sederhana namun penuh makna yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Dari mereka, ia belajar bahwa kekayaan sejati bukan diukur dari banyaknya uang, melainkan dari kejujuran, kerja keras, dan keteguhan hati.

BACA JUGA: Wayan Suena: Menjual Bali Sebagai Destinasi Budaya yang Utuh

Ayahnya, seorang kusir cidomo di Lombok, menjadi teladan pertama tentang arti ketekunan. Setiap hari menarik delman tanpa mengeluh, sang ayah menunjukkan bahwa hidup harus dijalani dengan usaha yang tulus. “Bapak tidak pernah mengajarkan hidup dengan uang,” kenang Wayan. “Yang dia ajarkan adalah kerja keras, jujur, dan selalu ingat pada Tuhan.” Bagi Wayan, pekerjaan sang ayah bukan sesuatu yang memalukan. Justru dari cidomo itulah ia belajar menghargai proses. “Saya tidak malu. Dari cidomo itulah saya bisa menjadi seperti sekarang ini,” ujarnya penuh bangga.

Prinsip sederhana itu tertanam kuat dalam dirinya: apa pun yang diawali dengan kejujuran dan kerja keras, pasti akan berhasil, selama disertai doa dan keyakinan pada Tuhan. Baginya, itu adalah hukum alam yang harus diseimbangkan dengan kehidupan sehari-hari.

Sang ibu, yang kini masih sehat di usia 75 tahun, melengkapi pelajaran hidup itu dengan kelembutan dan kebijaksanaan. Pesan ibunya sejalan dengan sang ayah: uang bisa dicari, tetapi pikiran yang baik dan hati yang ikhlas adalah bekal paling berharga. “Ibu selalu mengajarkan keikhlasan,” kata Wayan. “Bahwa apa pun yang kita lakukan harus disertai niat baik, karena itulah yang akan kembali kepada kita.”

Dari pasangan sederhana inilah Wayan Suena menimba kekuatan untuk menaklukkan tantangan. Kejujuran, kerja keras, doa, dan keikhlasan menjadi pondasi yang mengantarkannya dari jalanan Lombok menuju panggung pariwisata dunia. Sebuah warisan nilai yang tak ternilai—lebih berharga daripada harta apa pun, dan menjadi kompas hidup yang terus menuntunnya hingga kini.  **

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *