MENJADI Ketua Dewan Pemimpin Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pertama di Bali bukanlah keputusan mudah bagi Jimmi Saputra. Saat tawaran itu datang, ia justru menghadapi ujian yang tak kalah berat — penolakan dari sang istri tercinta.
Natalia Saputra, yang sejak awal mendampingi langkah Jimmi dalam dunia bisnis, merasa ragu. Ia tahu betul suaminya adalah sosok yang berani, keras kepala, dan tidak pernah takut melawan ketidakadilan. Dunia politik, baginya, adalah medan yang keras dan penuh risiko.
“Waktu itu istri saya sempat berkata, pilih keluarga atau karier politik,” kenang Jimmi dengan senyum tenang.
Pilihannya jelas tidak sederhana. Namun, bagi Jimmi, politik bukan sekadar ambisi pribadi — melainkan panggilan hati untuk membawa perubahan.
Sebagai pengusaha yang terbiasa bekerja dengan prinsip kejujuran dan transparansi, ia ingin menghadirkan wajah politik yang berbeda: politik yang bersih, berpihak pada rakyat, dan dijalankan dengan hati nurani.
Perjalanannya di PSI membuktikan bahwa idealisme masih bisa hidup di dunia politik. Dengan semangat solidaritas dan keberanian, Jimmi menjadikan PSI Bali sebagai ruang bagi generasi muda yang ingin berani bersuara dan melawan ketidakadilan tanpa harus kehilangan integritas. **
Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

