LABUAN BAJO – Matahari baru saja naik di langit Labuan Bajo ketika derap langkah ratusan peserta mulai terdengar dari Puncak Waringin. Diiringi warna-warna mencolok dari kain tenun Manggarai, Komodo Waterfront Festival (KWF) 2025 resmi dibuka dengan sebuah perayaan kolosal: Bentang Kain Songke yang melibatkan 1.507 peserta. Itulah pagi ketika budaya, kebersamaan, dan identitas Manggarai kembali dipertemukan dalam satu bentangan kain.
Pagi yang Dihidupkan oleh Warna dan Warisan
Sejak pukul enam pagi, jalur menuju pusat kota Labuan Bajo berubah menjadi panggung terbuka. Deretan guru, mahasiswa, siswi berseragam, komunitas seni, hingga para pendidik bergerak dalam ritme yang sama—mengarak kain Songke sambil membagikan cerita dan senyum.
Karnaval budaya yang membuka festival ini bukan sekadar parade. Ia menjadi gambaran nyata dari semangat tema “Bajo Heritage”—bahwa budaya Manggarai tidak hanya dilestarikan, tetapi terus hidup di tengah masyarakat yang tumbuh dan bergerak maju.
Di garis akhir, tepat di depan Hotel Meruorah Komodo Labuan Bajo, ribuan lembar Songke akhirnya dibentangkan bersamaan. Pemandangan itu seolah mengubah ruang publik menjadi kanvas raksasa, penuh pola geometris dan warna hitam merah khas Manggarai.
Sebuah Pembukaan yang Mengakar
Pembukaan resmi festival dilakukan oleh Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, M.Kes, bersama Direktur Utama PT Indonesia Ferry Property (IFPRO), Ferry Snyders. Turut hadir jajaran Forkopimda, pimpinan organisasi pariwisata, tokoh pendidikan, serta OPD Kabupaten Manggarai Barat.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan pesan yang menyentuh:
“Komodo Waterfront Festival adalah panggung kita untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Labuan Bajo tidak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang tak ternilai. Bentang Songke hari ini adalah cara kita menegaskan jati diri sebagai masyarakat Manggarai.”
Gong yang dipukul bersama menjadi penutup seremoni, menandai dimulainya rangkaian festival yang akan menyala selama sepekan.
Songke: Benang-benang yang Menyatukan
Songke bukan kain biasa; ia adalah identitas, doa, dan simbol kebanggaan bagi masyarakat Manggarai. Dalam festival ini, kain Songke tak hanya dipamerkan—tetapi dihidupkan kembali oleh para pembawanya.
Institusi pendidikan yang terlibat meliputi Politeknik Elbajo Commodus, SMK Stella Maris, MAN Komodo, SMKN 1 Labuan Bajo, SMAN 1 Komodo, SMPN 1 Komodo, SMP Arnoldus, SMAK dan SMPK St. Ignatius Loyola, serta SMK St. Yosefa.
Keterlibatan mereka menegaskan empat makna utama bentangan Songke:
-
Upaya nyata melestarikan warisan leluhur
-
Penghormatan terhadap akar budaya Manggarai Barat
-
Penguatan citra Labuan Bajo sebagai destinasi wisata berkelas dunia
-
Simbol penyambutan bagi wisatawan yang datang
Pagi itu, Songke tidak hanya terhampar di tanah—tetapi juga di hati para peserta yang bangga menjadi bagian dari momen sejarah.
Seminggu Perayaan: Dari Dapur, Panggung, hingga Jalan Kota
Komodo Waterfront Festival 2025 berlanjut hingga 22 November, dengan rangkaian acara yang mempertemukan budaya, kuliner, dan pertunjukan kreatif:
-
16 November – Pelatihan dan kompetisi memasak cita rasa lokal bersama chef tamu internasional
-
18–19 November – Pelatihan & kompetisi mixology bersama legenda bartender Indonesia Gede Ngurah Udayana dan Eka Jager
-
19 November – Pameran budaya dan Final Komodo Idol 3
-
20–22 November – Bazaar UMKM seni, budaya, dan kuliner
-
21 November – Bajo Got Talent
-
22 November – Puncak acara berupa sendratari modern, Komodo Idol Grand Final, fashion show, dan konser hiburan
Semua acara ini dirancang untuk mengangkat identitas Manggarai Barat sebagai destinasi wisata dunia yang tidak melupakan akar budaya lokalnya.
Labuan Bajo: Persimpangan Alam, Budaya, dan Keramahtamahan
Festival tahun ini juga mendapat dukungan penuh dari Meruorah Komodo Labuan Bajo, hotel bintang lima yang menjadi ikon hospitality di kota ini. Dengan fasilitas lengkap, lokasi strategis, dan panorama Marina Labuan Bajo, Meruorah menjadi titik temu ideal bagi wisatawan yang ingin menjelajahi keindahan Pulau Komodo dan kekayaan budaya sekitarnya.***

