BAGI Hilarius Mali Asa tantangan bukanlah alasan untuk berhenti. Ia justru menjadikannya sebagai ruang belajar. Dan momentum itu datang ketika pandemi COVID-19 mengguncang seluruh sektor, termasuk bisnis art shop yang ia jalankan di Bali. Aktivitas terhenti, pelanggan tak ada, dan gerak terbatas.
Namun, di saat banyak orang diliputi kebingungan, Hilarius memilih bangkit dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: masuk ke dunia pertanian organik.
Saat art shop sepi, ia melihat sebidang lahan kosong yang selama ini tak tersentuh. Di sanalah ia memulai sesuatu yang baru. Ia belajar membuat pupuk organik, baik cair maupun padat, mempelajari pola tanam yang benar, dan mengasah ketekunan yang tidak kalah berat dari dunia bisnis.
Ia menanam pisang dan pepaya California, memperlakukan setiap prosesnya dengan hati-hati seolah sedang memahat sebuah karya seni. Ketika panen pertama datang dan melihat buah-buah itu tumbuh sehat serta berkualitas tinggi, Hilarius tak mampu menahan air mata haru.
Ia telah menanam, merawat, dan memanen—dengan hati yang sama ketika ia membangun bisnis.
Membawa Ilmu Pulang ke Timor
Kesuksesan di Bali melahirkan misi baru: membawa praktik pertanian organik ke kampung halamannya di Timor. Hilarius ingin mengajak anak-anak muda belajar bertani dengan cara yang berkelanjutan, tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.
Ia ingin mematahkan tradisi lama: menebas hutan untuk membuka lahan baru. Baginya, hutan adalah sumber kehidupan yang tak boleh terus dikorbankan.
“Dengan pertanian yang benar, tanah yang tandus pun bisa kembali subur. Kita hanya perlu kemauan untuk belajar,” tegasnya.
Dengan menyediakan edukasi, alat, dan semangat, ia berharap generasi muda Timor mampu melihat pertanian sebagai peluang, bukan pekerjaan terpaksa. Ia ingin mereka mengerti bahwa pupuk organik dapat dibuat dari bahan-bahan sederhana di sekitar mereka.
Semangat belajar Hilarius tidak berhenti pada tanah. Ia juga mencoba peruntungan di dunia peternakan ayam. Ia membeli anak ayam yang masih kecil agar dapat memahami perawatannya dari awal—pakan, kebersihan, kandang, hingga manajemen kesehatan hewan.
Hasilnya? Ia kembali berhasil. Ayam-ayam tumbuh sehat dan kuat, menjadi pengalaman baru yang memperkaya wawasan serta manajemen usahanya.
Namun, saat pandemi mereda dan art shop kembali ramai, Hilarius menyerahkan peternakan itu kepada orang lain. Sayangnya, tanpa perawatan yang tepat, ayam-ayam itu terserang virus dan mati. Sebuah pelajaran mahal tentang pentingnya ketelatenan dan disiplin, terutama dalam dunia peternakan. **
Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

