DENPASAR – Pariwisata Bali yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler di dunia, kini menghadapi sejumlah tantangan serius. Dalam wawancara eksklusif tim globalone.id dengan I Nyoman Astama, seorang pelaku pariwisata yang kini menjabat sebagai Honorary Consul of Ukraine atau Konsul Kehormatan Ukraina, berbagai isu seperti kemacetan, perilaku negatif wisatawan, dan krisis pengelolaan sampah menjadi sorotan utama.
Menurut Nyoman Astama, kemacetan di Bali, terutama di jalur-jalur utama pariwisata, menjadi keluhan utama wisatawan. “Kemacetan ini bukan hanya mengganggu kenyamanan wisatawan, tetapi juga merusak citra Bali sebagai destinasi yang menawarkan ketenangan,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa infrastruktur jalan di Bali belum mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah wisatawan dan kendaraan. Data dari Dinas Pariwisata Bali menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan hingga Mei 2025 saja, mencapai 2.644.879 kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 13,65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, hal ini turut membebani infrastruktur.
BACA JUGA: Masalah Klasik Sampah: Ancaman Lingkungan dan Pariwisata
Terkait hal ini Nyoman Astama mengusulkan pengembangan sistem transportasi umum yang terintegrasi berbasis teknologi. Seperti bus wisata berbasis listrik yang menghubungkan destinasi utama. “Kita perlu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Selain itu, pengelolaan waktu kunjungan wisatawan ke destinasi populer seperti Tanah Lot atau Kintamani dapat mengurangi kemacetan,” katanya. Ia juga mendesak pemerintah untuk mengalokasikan anggaran lebih besar untuk memperbaiki infrastruktur jalan. *
Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden
Catatan Redaksi: Cerita, kisah dan pengabdian I Nyoman Astama hadir dalam beberapa tulisan di globalone.id sekaligus dalam versi E-Magazine EKSEKUTIF.

