SEJAK kecil Joao Meco selalu diajarkan untuk dekat Tuhan, agar dipertemukan dengan orang-orang baik. Pesan itu yang dipegang Joao dari kecil hingga remaja, kuliah, dan karier. Sepanjang perjalanan hidup, Joao memang banyak bertemu orang-orang baik dan bisa menggunakan kemampuannya untuk membantu orang lain.
Sejak SMA Joao suah bersekolah jauh dari tempat kelhirannya di Timor Leste, yakni sekolah di SMA Budya Wacana, Yogyakarta. Ia lalu melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Joao yang beragama Katolik, tetapi dalam perjalanan iman, juga banyak berinteraksi dengan berbagai tradisi Kristen, baik Katolik maupun Protestan.
Dengan latar belakang budaya Timor dan pengalaman lintas tradisi iman Katolik serta Kristen, Joao Meco tumbuh dengan cara pandang yang kaya. Ia terbiasa menghadapi perbedaan, baik budaya maupun pandangan hidup, yang justru membentuk karakternya sebagai advokat yang tegas namun tetap humanis.
BACA JUGA : Prinsip Sederhana Joao Meco : Bertemu dengan Orang Baik atau Menemukan Orang Baik
Dalam pengalaman pribadinya, Joao sering merasa bahwa kalau seseorang hanya berjuang untuk diri sendiri, hasilnya belum tentu maksimal. “Tetapi ketika saya ingin menolong orang lain, justru jalan terbuka. Saya percaya bahwa Tuhan bekerja melalui orang-orang baik yang kita temui,” katanya.
Nama Joao Meco sudah lama dikenal sebagai advokat yang vokal membela korban ketidakadilan dan kaum tertindas. Meski lahir di tanah Timor Leste, Meco justru memilih untuk menjadi warga negara Indonesia. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Pilihan ini dilandasi oleh keyakinan iman dan rasa tanggung jawab.
Joao Meco setia menangani berbagai kasus yang kerap diabaikan—terutama menyangkut korban kekerasan, perempuan, anak, serta persoalan hak-hak sipil. Nama Joao Meco bukan hanya identik dengan sosok advokat pemberani, tetapi juga simbol kesetiaan: seorang putra Timor Leste yang memilih Indonesia sebagai tanah air tempatnya berdiri teguh memperjuangkan keadilan. **
penulis : Karolina, editor : Igo Kleden

