Filosofi Sederhana: Belajar dari ‘Good Samaritan’

Spread the love

DENPASAR – Dalam keseharian, Yusdi Diaz dikenal bukan hanya sebagai tokoh yang aktif di dunia pariwisata dan sosial, tetapi juga sebagai pribadi yang memaknai hidup dengan cara sederhana: menjadi sahabat bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang. Filosofi ini ia yakini sebagai pengejawantahan kisah Good Samaritan dalam Kitab Suci Katolik.

Bagi Yusdi, Good Samaritan bukan sekadar perumpamaan klasik tentang orang asing yang menolong sesamanya, tetapi sebuah panggilan hidup. Ia percaya bahwa ukuran sejati dari keberimanan adalah kemampuan untuk hadir, peduli, dan memberi manfaat nyata bagi orang lain, bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan, suku, atau status sosial.

BACA JUGA : Yusdi Diaz: Politik Sebagai Jalan untuk Mengabdi

“Dalam hidup ini, kita tidak bisa memilih siapa yang akan kita jumpai di jalan. Tetapi kita selalu bisa memilih untuk menolong,” begitu prinsip yang kerap ia pegang. Nilai inilah yang membuat Yusdi selalu berusaha membangun jembatan, bukan tembok; membuka ruang dialog, bukan pertentangan.

Filosofi Good Samaritan itu ia terapkan baik dalam lingkup keluarga, pergaulan, hingga pengabdiannya di masyarakat. Di tengah kesibukan, ia tetap menyisihkan waktu untuk mendampingi komunitas, membantu sesama, dan menguatkan solidaritas lintas agama. Bagi Yusdi, menjadi Good Samaritan adalah panggilan universal untuk hidup penuh kasih, rendah hati, dan tulus.

Dalam perjalanan hidupnya, ia menyadari bahwa dunia sering kali dipenuhi sekat—ekonomi, agama, maupun budaya. Namun, ia memilih untuk menjadikan pengalaman lintas etnis dan multikultural yang ia alami sejak sekolah sebagai dasar membangun sikap terbuka. “Kalau kita bisa membawa diri dengan baik, kita akan diterima dalam pergaulan. Dari situlah persaudaraan tumbuh,” ungkapnya.

Melalui teladan ini, Yusdi Diaz ingin menegaskan bahwa iman Katolik bukan sekadar doa dan ritus, melainkan aksi nyata yang menghidupi kasih Kristus. Menjadi Good Samaritan berarti tidak berhenti pada kata-kata, melainkan menjelma dalam tindakan: menyapa, membantu, dan menumbuhkan harapan bagi orang lain.

Karena itula, Yusdi tetap hadir di tengah masyarakat—di gereja, di komunitas, atau sekadar di ruang-ruang diskusi santai. Ia tetap menjadi pribadi yang hangat, ringan menyapa, dan selalu siap berbagi. Karena baginya, politik sejati bukan soal kursi, tetapi soal hati yang mau mengabdi.  **

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *