DENPASAR – Nama Yosep Yulius Diaz, atau yang akrab disapa Yusdi Diaz, bukanlah nama asing di Bali. Sosoknya dikenal luas, bukan hanya di kalangan pelaku pariwisata, tetapi juga di ranah politik dan sosial kemasyarakatan. Dalam lintasan kariernya, politik bukan sekadar panggung perebutan kekuasaan, melainkan jalan untuk mewujudkan gagasan serta keberpihakan pada masyarakat.
Sejak muda, Yusdi terbiasa dengan ruang diskusi. Lingkungan sekolahnya yang multietnis dan multiagama telah membentuk cara pandangnya yang inklusif. Ia terbiasa bertukar pikiran, berbeda pendapat, bahkan berdebat tanpa harus bermusuhan. “Tidak ada yang bisa memonopoli kebenaran. Tidak ada yang bisa memonopoli kepintaran. Kalau kita saling berbagi, pasti ada jalan,” ujarnya.
BACA JUGA: Yusdi Diaz: Belajar dari Pergaulan, Bertumbuh dari Pengalaman
Pengalaman panjang itu mengantarkannya masuk ke dunia politik. Ia bergabung dengan partai dan aktif menyuarakan apa yang ia yakini sebagai kebutuhan masyarakat. Politik, baginya, adalah ruang pertemuan gagasan, sekaligus sarana memperjuangkan aspirasi banyak orang.
Yusdi bahkan pernah maju dalam kontestasi pemilihan kepala daerah. Meski hasilnya tidak membawa kemenangan, ia menilai pengalaman itu sebagai pelajaran berharga. “Pengalaman kadang-kadang harus dibayar mahal. Tapi itu biasa, bagian dari proses belajar,” ujarnya dengan senyum tenang.
Dalam perjalanan politiknya, keluarga menjadi penopang utama. Saat masih lajang, sang ibu yang selalu memberi dorongan. Setelah menikah, istrinya ikut hadir mendampingi. Ya, AA Ayu Putu Priniti atau akrab disapa Gek Diaz, anggota DPRD Kota Denpasar adalah sang istri yang setia mendampingi.
Kini, Yusdi mengakui bahwa jalan politik belum benar-benar usai. Ia akan terus berjuang di jalur ini. Baginya politik bukan soal jabatan, melainkan semangat untuk terus memberi. “Kalau kita punya kemampuan, ya gunakan untuk membantu. Tapi kalau tidak, cukup jadi pendengar yang baik. Itu juga sudah bisa menguatkan orang lain,” ucapnya. **
Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

