BADUNG – Di sudut Kuta Selatan yang hiruk-pikuk, aroma kayu tua dan tekstur pahatan etnik kini menjadi daya tarik baru. Dua gerai Lakaan Timor Primitive—di Jl. Labuan Sait, Pecatu dan Jl. Toyaning 2, Ungasan—resmi dibuka, memperkenalkan karakter furnitur yang tidak sekadar mengisi ruang, tetapi membawa cerita panjang dari tanah Timor.
Di balik nama Lakaan, tersimpan latar geografis yang megah dan kebanggaan kultural yang dalam. Lakaan adalah gunung tertinggi di Pulau Timor, terletak di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Dari kaki gunung itulah pemilik Lakaan Timor Primitive, Adv. Hilarius Mali Asa, S.H., berasal. Ia tumbuh dengan melihat bagaimana masyarakat setempat mengolah kayu, membuat perabot, dan membangun rumah dengan tangan-tangan terampil—ketrampilan yang kini menjadi roh produk Lakaan.
“Nama ini bukan hanya label toko. Lakaan adalah rumah saya, masa kecil saya, dan sumber inspirasi yang paling jujur,” ungkap Hilarius.
Dengan memilih nama gunung itu, ia seolah memindahkan sepotong Timor ke Bali—sebuah jembatan antara tanah asal dan pulau yang kini ia jadikan tempat berkarya.

Membawa Timor ke Bali, Bukan Sekadar Berjualan Meubel
Gerai Lakaan Timor Primitive 1 dan 2 menampilkan karya-karya yang terbuat dari kayu solid, penuh guratan alami, dan sarat sentuhan tradisi. Pengunjung bisa menemukan meja, kursi, pintu ukir, hingga dekorasi ruangan yang memadukan kekuatan material Timor dan gaya rustic yang semakin digemari.
Namun bagi Hilarius, toko ini bukan hanya ruang pamer. Sejak awal ia berkomitmen bahwa Lakaan harus menjadi jalan bagi lebih banyak orang untuk bertumbuh. Ia ingin membawa dampak bagi para suplier, pengrajin, dan pekerja yang mengandalkan keahlian tangan mereka.
“Saya ingin Lakaan menjadi bagian dari kehidupan banyak orang,” katanya. “Memberikan ruang bagi para pengrajin, mendukung suplayer, dan tentu memenuhi kebutuhan pelanggan yang mencari sesuatu yang berbeda. Lewat cara ini, kami ikut berkontribusi pada pembangunan Bali.”
Dua Gerai, Satu Identitas
Perbedaan lokasi dua toko Lakaan bukan untuk membedakan produk, tetapi untuk memperluas jangkauan. Pecatu dan Ungasan, dua kawasan yang berkembang pesat dengan perpaduan wisata, residensial, dan bisnis kreatif, dipilih sebagai titik di mana narasi Timor dapat bertemu dengan pasar Bali yang dinamis.
Masuk ke salah satu gerainya, pengunjung tak hanya melihat furnitur, tetapi juga merasakan suasana khas Timor yang hangat—warna kayu gelap, tekstur kasar alami, dan desain yang bercerita tentang budaya. Seolah setiap potong kayu pernah menjadi bagian dari kisah panjang Pulau Timor sebelum akhirnya tiba di Bali.
Lakaan adalah metafora perjalanan Hilarius: dari kaki gunung yang menjadi simbol kekuatan, hingga membangun usaha di Bali yang menjadi pusat kreativitas dan pariwisata. Dua gerai Lakaan Timor Primitive kini berdiri sebagai bukti bahwa identitas lokal bisa dibawa ke panggung yang lebih luas, tanpa kehilangan akar.
Bagi Hilarius, membuka toko bukan tujuan akhir. Ini baru awal dari misinya memperkenalkan keindahan kerja tangan Timor dan memastikan semakin banyak orang mendapat manfaat dari keberadaan Lakaan—baik pengrajin, mitra usaha, maupun para pelanggan yang jatuh cinta pada karya-karya uniknya.***

