Diskusi pariwisata pasca Covid-19 yang diprakarsai Bali Hotel Assosiation (BHA). (foto: istimewa)
PANDEMI Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 menghantam Bali lebih keras daripada daerah lain di Indonesia.
Ketika penerbangan internasional dihentikan, hotel-hotel di Bali yang biasanya penuh dengan wisatawan, mendadak kosong. Ribuan karyawan dirumahkan, banyak properti terpaksa tutup, dan ekonomi Bali terpuruk.
Di tengah situasi krisis ini, Bali Hotels Association (BHA) tampil sebagai garda depan industri perhotelan. Di bawah kepemimpinan Fransiska Handoko, General Manager Risata Bali Resort & Spa yang sekaligus menjadi perempuan pertama Ketua BHA, asosiasi ini mengambil peran penting dalam menyelamatkan sektor perhotelan dan pariwisata Bali.
BACA JUGA: Saat Pandemi Covid-19 Mengubah Wajah Pariwisata Bali
BHA bergerak cepat, memastikan setiap hotel anggota memiliki panduan jelas mengenai kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan (CHSE). Hal ini menjadi kunci agar tamu dan wisatawan merasa aman saat Bali kembali dibuka.
Salah satu langkah paling signifikan adalah keterlibatan BHA dalam kampanye vaksinasi. Bersama pemerintah dan asosiasi kesehatan, BHA memobilisasi hotel-hotel anggotanya sebagai sentra vaksinasi. Ribuan pekerja pariwisata mendapat vaksin lebih awal sehingga Bali siap menyambut wisatawan dengan jaminan keamanan kesehatan.
Menyadari banyak karyawan yang dirumahkan, BHA meluncurkan program pelatihan daring. Topiknya beragam, mulai dari peningkatan keterampilan layanan, pemasaran digital, hingga manajemen krisis. Selain itu, mereka juga memperhatikan kesehatan mental pekerja melalui program wellbeing.
BHA menjadi jembatan komunikasi antara industri hotel dengan pemerintah. Mereka aktif berdialog terkait kebijakan pembatasan perjalanan, usulan travel corridor, hingga upaya mempercepat pembukaan kembali bandara internasional. Kehadiran BHA memastikan suara pelaku industri didengar. **
Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

