DALAM setiap langkahnya, Netta selalu mengingat sosok yang menjadi sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya: sang ibu. Bagi Netta, ibunya bukan hanya orang tua, tetapi juga motivator yang tak pernah berhenti menyalakan semangat.
“Ibu selalu bilang, kalau saya bisa sekuat ini sebagai perempuan, kenapa kamu tidak bisa?” kenang Netta. Kalimat sederhana itu menjadi pegangan yang selalu ia bawa, terutama saat godaan untuk menyerah datang.
Baca Juga: Bangkit dari Perpisahan, Melangkah Jadi Wanita Tangguh
Sebagai anak, ia merasa kekuatan ibunya adalah teladan. Setiap kali ada rasa lelah atau putus asa, Netta kembali teringat pesan itu. “Kalau saya menyerah, orang tua saya pasti malu,” ujarnya.
Sang anak pun tumbuh dengan rasa kagum, memuji ketangguhan hati seorang ibu yang tak pernah menunjukkan rapuhnya. “Namanya manusia pasti ada saatnya lemah, tapi saya memilih untuk tetap kuat menghadapi kenyataan hidup. Dari awal menikah sampai hari ini, saya tidak pernah benar-benar break down. Saya selalu bilang ke diri sendiri: saya pasti bisa.”
Baginya, energi bukan untuk dihabiskan pada hal yang sia-sia. Netta memilih menaruh energinya hanya pada tempat-tempat yang memberinya kekuatan positif. Dari situlah semangatnya terus terjaga.
Kini, Netta bersiap menapaki babak baru. Ia tengah merancang usaha baru dengan 100 persen modal pribadi. “Saya tidak mau memasukkan siapa pun, ini akan menjadi warisan untuk anak,” tegasnya.
Bali tetap menjadi basis utama, tetapi ia juga menyiapkan rencana ekspansi ke luar negeri. Ada dua negara yang kini sedang dipertimbangkan. Meski begitu, fokus usahanya tetap pada bidang kuliner yang menjadi basic dan passion-nya sejak lama.
Persiapannya pun hampir matang, sekitar 80 persen. Ia menegaskan, lokasi yang akan dipilih harus benar-benar prime location, karena baginya tempat adalah salah satu kunci kesuksesan.
Dengan semangat yang diwarisi dari ibunya, Netta melangkah mantap. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan sang anak, sekaligus membuktikan bahwa setiap perempuan bisa bangkit dan berdiri tegar menghadapi hidup. **
Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

