Menggabungkan Tradisi dan Kreativitas: Cara Hilarius Mali Hadirkan Sentuhan Timor di Pulau Dewata

TANAH Timor dikenal kaya akan alam dan budaya yang unik. Bagi Hilarius Mali, kekayaan ini menjadi inspirasi untuk mengembangkan usaha sambil tetap menghormati adat setempat. Setiap langkahnya selalu memperhatikan keseimbangan antara inovasi bisnis dan penghormatan terhadap budaya.

Saat membuka toko baru di Ungasan, Hilarius menggelar acara melaspas, tradisi untuk memohon izin kepada tanah dan leluhur Bali. Meskipun bukan orang asli Bali, Hilarius menunjukkan rasa hormat yang tinggi terhadap adat dan budaya lokal. Tidak berhenti di situ, acara juga diisi dengan hiburan penari jogged bumbung, bukan pesta ala timur, tetapi kegiatan budaya yang mengundang partisipasi semua tamu.

Keunikan acara ini terletak pada interaksi yang seru: penari jogged bumbung mengajak undangan menari bersama. Mereka yang tidak mau atau belum bisa menari “terpaksa” dikejar oleh penari, menciptakan suasana hangat dan mengundang tawa semua yang hadir.

Ide sederhana namun kreatif ini mendapat respon luar biasa dari warga setempat dan pejabat Bali yang hadir. Acara tersebut menjadi bukti bagaimana penghormatan terhadap budaya, kreativitas, dan interaksi sosial bisa menjadi nilai tambah bagi bisnis, sekaligus membangun hubungan harmonis dengan masyarakat lokal.

Lakaan Timor Primitive: Membangun Usaha Setinggi Gunung Lakaan

Di tengah dinamika Kuta Selatan yang tak pernah tidur, sebuah aroma baru mulai mencuri perhatian —aroma kayu tua, guratan etnik, dan kehangatan budaya Timor. Dua gerai Lakaan Timor Primitive, masing-masing berlokasi di Jl. Labuan Sait, Pecatu dan Jl. Toyaning 2, Ungasan, adalah ruang di mana furnitur bukan sekadar produk, melainkan cerita yang hidup.

Nama Lakaan bukan sekadar identitas bisnis. Ia menyimpan gugusan makna dari tempat asal pemiliknya, Adv. Hilarius Mali Asa, SH, yang lahir di kaki Gunung Lakaan—gunung tertinggi di Pulau Timor, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Dari gunung inilah ia menyerap filosofi tentang ketekunan, keteguhan, dan tekad untuk membangun sesuatu yang menjulang tinggi.
Filosofi itu menjadi pegangan: membangun bisnis setinggi Gunung Lakaan—sebuah pengingat bahwa perjalanan usaha harus ditopang oleh ketekunan, keberanian membuat perbedaan, dan kemampuan melihat potensi yang tak semua orang mampu jalankan.

Lakaan Timor Primitive menampilkan furnitur solid wood yang kuat dan autentik. Kayu-kayu berukuran besar didatangkan dari berbagai penjuru Indonesia, dibiarkan dengan tekstur asli, lalu diberi sentuhan seni secukupnya untuk menonjolkan karakter alamnya.

Hasilnya adalah karya yang tidak hanya bernilai estetik, tetapi juga bernilai filosofis—perpaduan antara kekuatan material Timor dan cita rasa rustic yang begitu diminati dalam desain interior modern.

 

Bukan Sekadar Meubel, Tetapi Misi Kultural

Sejak awal, Hilarius melihat Lakaan bukan sebagai ruang bisnis semata. Ia memaknainya sebagai jembatan antara Timor dan Bali—dua budaya yang sama-sama kaya akan seni, ketangguhan, dan identitas.

“Saya ingin Lakaan menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Memberikan ruang bagi para pengrajin, mendukung suplayer, dan memenuhi kebutuhan pelanggan yang mencari sesuatu yang berbeda. Lewat cara ini, kami ikut berkontribusi pada pembangunan Bali,” jelasnya.

Dari suplier, perajin, hingga pekerja yang mengandalkan keterampilan tangan, Lakaan berperan membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas.

Pembukaan dua gerai Lakaan di Pecatu dan Ungasan bukanlah strategi pemisahan produk, melainkan perluasan akses. Keduanya berada di kawasan yang berkembang pesat, dengan perpaduan wisata, residensial, dan industri kreatif yang ideal untuk memperkenalkan karakter Timor pada pasar Bali yang dinamis.

Masuk ke dalam gerai, pengunjung akan disambut oleh nuansa khas Timor: kayu gelap, tekstur alami yang kasar, ornamen etnik, dan atmosfer hangat yang terasa akrab. Setiap furnitur seakan membawa riwayat perjalanan panjang kayu-kayu dari tanah Timor hingga tiba di Bali.

 

Mengangkat Identitas Lokal

Lakaan menjadi metafora perjalanan hidup Hilarius—dari kaki gunung yang melambangkan kekuatan, menuju Bali sebagai pusat kreativitas dan pariwisata. Kini, dua gerai Lakaan Timor Primitive berdiri sebagai bukti bahwa identitas lokal dapat tampil pada panggung yang lebih besar tanpa kehilangan akarnya.

Namun bagi Hilarius, pencapaian ini bukanlah puncak.
Ini adalah langkah awal menuju misi yang lebih besar: memperkenalkan keindahan karya tangan Timor, memberdayakan lebih banyak orang, dan menghadirkan furnitur yang tidak hanya memenuhi ruang, tetapi juga menghidupkan cerita.**

 

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *