DENPASAR – Yosep Yulius Diaz, atau yang lebih akrab disapa Yusdi Diaz, adalah sosok yang sangat familiar di berbagai kalangan di Bali. Ia dikenal bukan hanya sebagai pelaku pariwisata, tetapi juga tokoh politik sekaligus penggerak sosial, khususnya di kalangan diaspora Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali. Kehadirannya seakan menjembatani banyak dunia: bisnis, organisasi, politik, hingga ruang-ruang sederhana tempat orang berbagi cerita dan ide.
Dalam kesederhanaannya, tersimpan pemikiran yang dalam. Saat tim Globalone.id berbincang dengannya, banyak kisah seru sekaligus inspiratif yang mengalir begitu saja dari pengalamannya.
“Dasarnya saya memang senang bergaul,” ungkap Yusdi membuka percakapan. Sejak kecil, ia terbiasa berada dalam lingkungan pertemanan yang beragam. Di masa sekolah, ia sudah akrab dengan suasana kompetisi, diskusi, bahkan perdebatan sehat yang menurutnya membentuk karakter sosial yang ia miliki hingga kini.
“Saya dari SD sudah terbiasa berteman dengan siapa saja. Waktu itu sekolah saya juga multikultural, banyak agama, banyak suku. Jadi dari kecil sudah terbiasa bergaul, berdiskusi, bahkan berbeda pendapat tanpa harus bermusuhan,” kenangnya.
Baginya, politik maupun aktivitas sosial hanyalah perpanjangan dari kebiasaan bergaul tersebut. Ia menekankan bahwa diskusi dan pertukaran ide adalah kunci dalam membangun pemahaman bersama. “Tidak ada yang bisa memonopoli kebenaran. Tidak ada yang bisa memonopoli kepintaran. Kalau kita saling berbagi, saling bertukar pendapat, kita bisa mencapai titik sepakat—atau bahkan tidak sepakat—tapi tetap saling menghormati. Itu yang penting,” ujarnya.
Sikap terbuka ini pula yang membuat Yusdi mudah diterima di berbagai kalangan. Ia menegaskan, warna partai, latar belakang, atau perbedaan pandangan bukanlah penghalang. “Kalau tujuannya untuk kebaikan, kita bisa berdiskusi dengan siapa saja,” tegasnya.
Perjalanan panjang Yusdi Diaz, dari dunia pendidikan hingga pergaulan sosial, membentuk dirinya sebagai pribadi yang cair, terbuka, dan mudah beradaptasi. Dan dari ruang-ruang diskusi itulah, ide dan gagasan tentang masyarakat, politik, hingga pariwisata terus tumbuh, membawanya menjadi figur yang dikenal luas di Bali hingga kini. **
Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

