SETELAH bertahun-tahun meniti karier di Jan’s Tours, tempat di mana ia belajar hampir semua dasar dunia pariwisata, I Ketut Ardana merasa sudah saatnya mencari pengalaman baru. Hatinya terpanggil untuk keluar dari zona nyaman, mencoba hal-hal yang lebih menantang, dan membuktikan kemampuan yang selama ini ia asah sendiri.
Tahun 1984, Ardana memutuskan keluar dari Jan’s Tours. Keputusan itu tentu tidak mudah — meninggalkan perusahaan besar yang telah memberinya banyak ilmu dan pengalaman. Namun, ia percaya bahwa setiap perjalanan hidup membutuhkan langkah berani untuk tumbuh.
Ardana kemudian menempuh jalan sebagai guide freelance. Dunia pemanduan wisata lepas memberikan ruang baru baginya untuk berkembang. Tanpa terikat pada satu perusahaan, ia bisa bekerja dengan berbagai biro perjalanan dan berinteraksi dengan wisatawan dari beragam latar belakang. “Menjadi guide freelance membuat saya lebih bebas mengatur waktu dan mengembangkan diri,” kenangnya.
Kebebasan itu tidak disia-siakan. Ardana aktif menerima tamu dari berbagai negara, terutama Korea dan Thailand, yang saat itu mulai menjadikan Bali sebagai destinasi favorit. Ia belajar memahami karakter wisatawan dari dua budaya yang berbeda: keramahan dan ketertiban khas Korea, serta kehangatan dan antusiasme wisatawan Thailand.
Dari pengalaman ini, ia semakin memahami esensi sejati seorang pemandu wisata — bukan hanya soal menjelaskan tempat atau sejarah, tetapi bagaimana menghadirkan pengalaman yang berkesan dan membangun hubungan manusiawi dengan setiap tamu.
Ketekunan dan profesionalismenya membuat namanya mulai dikenal di kalangan pelaku pariwisata Bali. Banyak biro perjalanan mempercayakan tamu penting untuk ia tangani. Baginya, setiap tur adalah kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan memberikan pelayanan terbaik yang bisa ia tawarkan.
Langkah beraninya meninggalkan kenyamanan Jan’s Tours terbukti menjadi keputusan yang tepat. Dari sinilah jalan menuju masa depan yang lebih besar terbuka — menuju peran yang kelak menjadikannya salah satu tokoh berpengaruh dalam industri pariwisata Bali. **
Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

