4 Dekade ‘Traveling’ Dudy Mayanto

Spread the love

Dudy Mayanto, Manager Abbey Travelindo Bali

BAGI Dudy Mayanto, dunia pariwisata bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjalanan hidup yang penuh warna, perjuangan, hingga kisah-kisah unik yang membentuk dirinya. Berikut kisah Dudy Mayanto, Manager Abbey Travelindo Bali kepada Tim Redaksi Globalone.id.

Perjalanannya dimulai pada tahun 1985, ketika ia masih seorang mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sambil kuliah, ia memilih terjun langsung ke industri perjalanan wisata melalui Natrabu Yogyakarta, biro perjalanan tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1950.

Di sana, Dudy ditempa dari bawah. Ia belajar banyak hal mulai dari operation, reservasi, hingga pekerjaan sederhana seperti mengangkat koper tamu di bandara. Tidak tanggung-tanggung, ia sudah terbiasa menangani wisatawan dari Jepang, Belanda, hingga Jerman. Tahun 1988 menjadi masa penuh pembelajaran: kerja keras, kedisiplinan, dan mental tangguh menjadi modal penting yang ia bawa sepanjang karier.

BACA JUGA: Rahasia Awet Muda ala Dudy Mayanto

Tahun berikutnya, ia bergabung dengan Pandanaran Tour & Travel Yogyakarta sebagai Operation Manager. Meski masih berstatus mahasiswa, Dudy langsung memegang tanggung jawab besar. Saat itu, pasar wisatawan Taiwan mulai masuk ke Indonesia. Bayangkan, dalam satu hari, Yogyakarta bisa menerima hingga 10 grup wisatawan Taiwan. Jumlahnya begitu banyak hingga tiket perjalanan harus ditaruh di tampah di bandara—pemandangan yang tak terlupakan.

Bersama sosok legendaris pariwisata Indonesia, Joop Ave-saat itu Menteri Pariwisata- Dudy mendapat pengalaman berharga. Ia pernah menghadapi kasus sulit ketika salah satu tamu yang ia tangani dirampok. Namun, Dudy tidak dibiarkan sendirian. Joop Ave selalu menelponnya untuk memantau perkembangan kasus. Dari situ, Dudy belajar arti kepedulian seorang pemimpin.

Bahkan, ia masih ingat bagaimana Jop Ave pernah membawa miniatur Borobudur dari batu asli ke Taipei, hanya untuk sebuah pameran memperkenalkan Indonesia. Miniatur itu hingga kini masih tersimpan di Taiwan, menjadi bukti keseriusan promosi pariwisata negeri ini di masa lalu. **

 

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *