Pariwisata Bali: Perlu Pengelolaan Satu Pulau, Sinergi dan Apresiasi pada Semua Kontributor

Spread the love

DENPASAR – Bicara pariwisata, bagi Yusdi Diaz pariwisata Bali adalah berkah sekaligus tantangan besar. Pulau ini dikenal di seluruh dunia, namun di balik popularitasnya, masih banyak hal yang perlu dibenahi. Bagi Yusdi, problem utama pariwisata Bali bukan pada kurangnya orang pintar atau pengalaman, justru sebaliknya—terlalu banyak orang hebat dengan gagasan berbeda.

“Yang kita butuhkan sekarang bukan sekadar ide, tapi kepemimpinan yang tegas. Harus ada yang berani berkata, I am in charge. Saya yang akan menggerakkan. Dari situ baru kita bisa menyusun rencana besar bersama, menjalankannya bersama, dan mengelolanya dengan konsisten,” tegas Yusdi.

Ia menekankan pentingnya konsep One Island One Management. Bagi Yusdi, itu bukan berarti satu daerah mendominasi daerah lain, melainkan penataan yang menyeluruh agar pariwisata Bali berjalan serasi. “Gubernur harus berani menjadi lidah yang menyuarakan kepentingan bersama. Setiap kabupaten punya potensi, punya kekhasan. Semua harus mendapat ruang, semua harus diberdayakan,” tambahnya.

Selain pemerintah daerah, Yusdi menilai investor dan pelaku industri juga perlu dilibatkan secara adil. Mereka jangan hanya dibatasi dengan aturan, tapi juga didengar aspirasinya. “Investor juga punya kendala, punya tantangan. Kalau kita duduk bersama, mendengar, dan mencari solusi, hasilnya pasti lebih baik,” ujarnya.

One Island One Management

Gagasan One Island One Management sebenarnya sudah saya rasakan urgensinya sejak tahun 2004. Saat itu, saya menghadapi persoalan pelik dalam menyesuaikan kepentingan dua daerah yang dipisahkan Sungai Ayung: Gianyar dan Badung. Keduanya sama-sama kukuh dengan pandangan masing-masing terkait peruntukan wilayahnya, dan tentu saja, hal ini menimbulkan tarik-menarik kepentingan yang tidak mudah dijembatani.

Kami sempat meminta bantuan Pemerintah Provinsi untuk menjadi penengah, namun jawaban yang kami terima justru sederhana: “selesaikan sendiri.” Dari situlah saya semakin menyadari, betapa pentingnya pengelolaan yang menyatukan perspektif—bukan lagi berbasis batas administratif, tetapi berdasarkan kepentingan bersama pulau ini.

Beberapa waktu kemudian, gagasan itu semakin kuat ketika Gubernur Made Pastika mulai mensosialisasikan konsep One Island One Management, yang pada akhirnya meneguhkan keyakinan saya: Bali hanya bisa dikelola dengan baik jika dipandang sebagai satu kesatuan utuh, bukan terpecah oleh sekat-sekat wilayah.

BACA JUGA : Filosofi Sederhana: Belajar dari ‘Good Samaritan’

Konten Kreator Perlu Diapresiasi, Bukan Dihakimi

Ada satu hal yang sering kali luput dari perhatian kita, yaitu peran para konten kreator. Banyak orang dari berbagai belahan dunia secara sukarela mempromosikan Bali lewat tulisan, foto, maupun video. Saya sering menemukan orang yang sebenarnya bekerja di luar negeri, tetapi setiap kali datang ke Bali, ia membuat konten bagus tentang kuliner, budaya, atau alam kita. Itu adalah promosi gratis yang nilainya tidak bisa dihitung. Menurut saya, Bali seharusnya berterima kasih kepada mereka, bukan malah menyulitkan.
Sayangnya, saya melihat masih ada kasus-kasus di mana WNA yang menjadi konten kreator, bahkan penulis e-book yang tujuannya mempromosikan Bali, justru dipermasalahkan oleh oknum petugas dengan alasan bekerja ilegal. Padahal, untuk bisa memberikan review yang jujur tentang pelayanan, rasa, pengalaman, atau suasana, mereka memang harus merasakan dan menikmati produk terlebih dahulu. Aktivitas itu bukanlah bentuk pekerjaan yang menghasilkan pendapatan langsung, melainkan kontribusi positif untuk promosi Bali.
Bagi saya, cara pandang terhadap pariwisata harus lebih profesional dan bijak.
Dengan semangat sinergi dan keterbukaan, saya percaya pariwisata Bali akan semakin kuat. Kita butuh pengelolaan satu pulau, butuh keberanian untuk tampil sebagai pemimpin, butuh telinga yang mau mendengar semua pihak, dan butuh sikap apresiatif pada siapa pun yang ikut memajukan Bali. Dengan cara itu, pariwisata Bali akan tetap menjadi kebanggaan dunia. **

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *