Pelajaran dari Uang 500 Perak: Awal Ketangguhan Jimmi Saputra

Spread the love

TAK semua pelajaran hidup datang dari sekolah. Kadang, yang paling membekas justru dari pengalaman sederhana di masa kecil — termasuk rasa sakit hati dan kerasnya didikan orang tua. Bagi Jimmi Saputra, pengalaman masa kecilnya menjadi pondasi ketangguhan yang membentuk dirinya hari ini.

“Jujur, dulu saya sampai benci dengan bapak saya,” kenangnya sambil tersenyum tipis. “Tapi sekarang saya tahu, semua itu justru membuat saya jadi kuat.”

Waktu kecil, teman-teman Jimmi mendapat uang saku lima ribu rupiah, bahkan lebih. Sementara ia hanya diberi 500 perak — padahal, ayahnya termasuk orang berada. “Saya sering dibully teman hanya karena uang saku saya kecil.”

Namun, justru dari situ naluri mandiri Jimmi tumbuh. Ia mulai berpikir bagaimana cara mendapatkan uang sendiri.
Hingga suatu hari, ia melihat seorang teman yang halaman rumahnya dijadikan tempat parkir bagi orang-orang yang hendak membuat SIM. Ia pun ikut membantu merapikan motor — menjadi tukang parkir kecil-kecilan.

“Sehari bisa dapat 15 ribu,” kenangnya dengan tawa. “Itu berkali-kali lipat dari uang saku saya. Rasanya luar biasa, karena bisa menghasilkan uang sendiri.”

Ia sempat berpikir sang ayah akan bangga dengan inisiatifnya. Tapi kenyataannya berbeda.
Begitu tahu, ayahnya justru marah besar. “Saya dipukul, katanya saya bikin malu keluarga,” ujar Jimmi.
Namun, semangatnya tidak padam. Ia tetap bekerja diam-diam. Hingga akhirnya, ada tetangga yang melapor — dan lagi-lagi, ia dipukul. Tapi sekali lagi, Jimmi tidak menyerah.

“Entah kenapa, saya tidak mau berhenti,” ucapnya pelan. “Mungkin karena saya merasa senang bisa punya uang dari hasil kerja keras sendiri.”

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Jimmi menyadari bahwa pengalaman itu bukan sekadar kenangan masa kecil.
“Itulah manifestasi awal dari diri saya sekarang,” katanya mantap. “Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata itu adalah down payment untuk masa depan saya. Dari uang 500 perak itu, saya belajar arti kerja keras dan kemandirian.” **

 

Penulis: Karolina, Editor: Igo Kleden

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *